YOUTH FOR THE FUTURE

SELAMAT DATANG DI BLOG PMR UNIT SMPN 18 KOTA BOGOR

Selasa, 26 Januari 2010

Cerpen Kelompok I

Terimakasih PMR


Pagi itu, tepatnya ketika Matahari menyinari sebagian dari bumi ini. Seperti biasa pula orang-orang sangat sibuk dengan kegiatan dunianya. Ada yang mengajar sebagai Guru, bekerja di dalam kantor perusahaan ternama, dan bercocok tanam di luasnya ladang persawahan. Itulah semua kesibukan yang dilakukan para umat manusia saat itu.
“Bu … ibu … ?,” satu pertanyaan yang dilontarkan seorang bocah yang memanggil ibunya. “iya nak, ada apa … ?,” jawab ibu berusia sekitar 40 tahunan itu yang sedang sakit. “ini loh bu, aku belikan obat-obatan untuk ibu, semoga saja dengan obat ini ibu lekas sembuh ya, dan bisa menemani aku disaat aku sendiri dan kesepian,”.
Ternyata, si ibu saat itu sedang terbaring sakit dan enggan untuk berobat, karena tidak punya uang untuk biayanya. “Darimana kamu bisa dapatkan obat-obatan itu, nak ?” tanya ibu. “tadi aku diajak temanku Dian untuk mencari sedikit uang dengan berjualan Koran dan saya berfikir lebih baik uang itu saya gunakan untuk beli obat saja. Maafin aku bu, tidak sempat pamit untuk izin keluar, maaf ya bu!,”. jawab bocah itu penuh rasa bersalah. “ya sudah nak. Oh ya, ibu mau bertanya apakah kamu masih punya impian untuk melanjutkan sekolahmu ?,”.
Mendengar pertanyaan ibu tadi,terdiamlah bocah itu kemudian dia berjalan keluar dengan kaki yang penuh kelemahan tanpa ada sedikit kekuatan. Duduk diatas kursi yang umurnya lebih tua dari dirinya sambil bersedih akan nasib yang diterima dalam kehidupannya. “Assalamu’alaikum …?,”. tiba-tiba satu panggilan dari arah depan rumahnya, dan ternyata itu Dian temannya yang mengajak berjualan Koran tadi. “Wa’alaikumsalam,”. Dijawabnya. “Hai Rudi, bagaimana keadaan ibumu ?,” kata Dian. Bocah itu ternyata bernama Rudi, yang seharusnya kini duduk di bangku kelas 2 SMP. “Alhamdulillah, sedikit agak baik dari sebelumnya. Oh ya, ada apa maksud kedatanganmu kesini ?,” tanya Rudi pada Dian sambil menyelimuti kesedihan yang dia rasakan. “aku mau mengajak kamu ke tempat yang bermanfaat dan aku yakin kamu pasti akan menyukai tempat itu,”. Jawab Dian.
Kebingungan yang ada dalam benak pikiran Rudi, sebab dia tidak tau tempat seperti apa yang dimaksud oleh Dian tadi. Tiba-tiba dengan spontan Rudi menjawab “Tidak … aku tidak ikut,”. “kenapa menolak ajakanku sobat, padahal aku ingin sekali memperkenalkan tempat itu padamu, rud !”jawab Dian. Sepertinya tempat itu menyimpan banyak peristiwa dan sejarah-sejarah sehingga Dian memaksa kepada Rudi agar ikut dengannya. “Aku gak mau ikut, dan meninggalkan ibu sendiri disini. Dan aku gak mau bahagia diatas kepedihan dan penderitaan ibu, apalagi saat ini ibuku sedang jatuh sakit. Lebih baik aku mati melihat ibu tersenyum bahagia, dari pada aku pergi dalam kesakitan bathin ibuku,”.
Hari pun semakin sore, semua aktifitas berhenti dan kembali beristirahat bagi mereka yang bekerja dan menuntut ilmu. Hanya saat itu, Rudi penasaran tempat seperti apa yang ingin didatangi oleh Dian. Kebetulan waktu itu malam hari, Dian pun main ke rumah Rudi. “oh ya, kalau boleh aku tau kamu mau ajak aku kemana ?,” tanya Rudi. Sedikit terkejut dengan pertanyaan Rudi. “aku akan mengajak kamu ke Toko Buku yang baru buka beberapa hari yang lalu, Karena aku mau melihat sahabatku bisa menimba ilmu walau tak melalui Lembaga sekolah, dan aku yakin apa yang kita inginkan pasti akan tercapai bila kita sering membaca disana,”. Jawab Dian penuh rasa bijak.
Mendengar pembicaraan antara Rudi dan Dian, tiba-tiba terdengar panggilan suara ibu dari kamar “ Rud … rudi ?,”. maka segeralah keduanya masuk ke kamar. Dan manjawab “ada apa bu … ?,” tanya Rudi dengan penuh kecemasan. “benar apa yang dikatakan Dian tadi, kamu harus pergi kesana dan harus mengetahui semua yang tidak pernah kamu tau,” seru ibu seraya kesakitan. “Tapi bu, bagaimana dengan kondisi ibu ? rudi gak mau terjadi sesuatu pada ibu … !,” jawab Rudi. “selama Allah masih mengizinkan ibu untuk bernafas, maka ibu akan berusaha menjaga diri ibu dengan hati-hati,”.
Keesokan harinya, tepat pukul 8 pagi Rudi dan Dian pun pergi berangkat menuju Toko Buku 2 Km dari tempat tinggalnya. Namun rasanya perasaan sedih dan khawatir pada Rudi begitu dalam akan merindukan ibunya yang sedang sakit. Dalam perjalanan, tiba-tiba ada seorang gadis sebaya seperti mereka yang bernama Novi, dia sudah tau semua tentang Rudi dari Dian, sebab Dian pernah kenal dengan Novi sebelumnya.
“selamat pagi Dian … ?,” sapa Novi. “pagi juga … ,”.jawab Dian. Rudi terdiam ketika melihat sosok wanita yang memancarkan cahaya pada wajahnya, seakan dia tak percaya melihat ciptaan Sang Khaliq yang satu ini. “kalian mau kemana ?,”. “kita berdua mau ke Toko Buku yang baru dibuka beberapa hari yang lalu. Disana kita akan menggali semua ilmu untuk mencapai harapan dan impian kita,”jawab Dian penuh semangat. “ya sudah kalau begitu sekalian saja kita bareng ?,” sahut Novi. “hayuuuk …,” Dian pun kembali menjawab.
Akhirnya mereka pun pergi dengan penuh rasa bahagia, canda, dan tawa. Setibanya disana mereka melihat memahami apa-apa yang telah mereka pelajari dari buku-buku yang ada di toko. Waktu tak mungkin bisa kembali dan berhenti, terdengar berita yang sangat mengejutkan. “Rud…Rudi! Ibumu Rud…!,” . Kata tetangga sebelah rumahnya yang bergegas berlari menyusul Rudi. “ibumu telah meninggal dunia… Rud!,”, sahutnya kembali. Innalillahi wa innailahi rajiun itulah kalimat yang tepat waktu di ucapkan pada waktu itu. Kosong…rasanya hati Rudi tak sedikit tersentuh apapun mendengar berita itu. Dan Rudi berlari-lari untuk melihat orang yang dicintainnya untuk terakhir kalinya.
Kemudian Rudi di halaman rumahnya, banyak orang berdatangan dan ada bendera kuning tanda penghormatan pada makhluk yang telah tiada. Rudi menghampiri jenazah ibunya “ibu…kau tau, saat mulut tak bisa bicara, saat mata tak bisa melihat, saat telinga tak bisa mendengar, dan saat hati tak bisa menyarankan. Itulah yang dinamakan kematian, “kata Rudi sambil menangis pilu. “ibu telah berjanji padaku, bahwa Ibu akan baik-baik saja selama Tuhan menjaga ibu. Tetapi kenapa, Tuhan juga yang memanggil ibu? Dulu aku tak sempat melihat sosok ayahku, karena masih dalam kandungan, tapi kenapa ibu pun pergi meninggalkan aku sendiri,” penuh rasa tangis dan haru jawaban Rudi.
Ternyata Rudi sejak kecil ditinggalkan ayahnya ketika masih dalam kandungan ibunya. Melihat kejadian yang sangat mendalam, Dian dan Novi mengelus –elus ke bahu Rudi yang gemetar oleh percikan cinta pada ibunya. Hari pun semakin gelap, lalu jenazah dimakamkan di permukaan terdekat. Rudi menangis saat terakhir melihat sosok ibu yang dicintai berbaring dibawah tanah yang berukuran 2x3 meyer saja, kemudian ia berkata “Ibu…semoga mendapatkan tempat yang layak disisi Allah dan satu hal lagi tolong salamkan rindu dan cintaku pada ayah, bu! Sampaikan bahwa aku akan selalu mencitai kalian, selamanya …”
Setelah beberapa hari dari kepergian ibunya Rudi, Novi berfikir alangkah baiknya ia membantu temannya yang terkena bencana ini Novi tau, keinginan & kemauan keras Rudi pada sekolah sangat tinggi. Kebetulan Novi merupakan anggota PMR Unit SMPN 18 Bogor ia bermusyawarah dengan teman dan ketua pimpinan PMR untuk menyisihkan sebagian uang jajannya untuk membantu Rudi agar melanjutkan sekolah kembali.
Waktu menunjukan pukul 5 sore, yabg berarti hari kian tenggelam. Rudi hanya bisa duduk diatas bangku rumahnya dan mengenang cerita cinta bersama ibunya saat dulu. Tiba-tiba datanglah Novi dan para Anggota PMR Unit SMPN 18 Bogor yang menghampiri Rudi. “ Rud, mmaaf menggangu,” Tanya Novi “ Ya … tidak apa-apa ko. Ada yang bisa saya Bantu?” Jawab Rudi. “kita semua ingin kamu kembali melanjutkan sekolah di SMP kita, intuk masalah biaya pihak sekolah telah menjamin semuanya,” kata Novi.
Mendengar kalimat itu, Akhirnya rasa sedih dan duka yang ada didalam hati Rudi hilang sekejap bahkan dia sangat bahagia. “ Terimakasih semuanya, aku bisa memberi imbalan apapun pada kalian karena aku tak punya sesuatu, hanya ungkapan terima kasih dari htiku,” kata Rudi dengan suara lemah lembutnya. Keesokan harinya, ia pun memulai lembaran baru untuk belajar dan memenuhi harapan dan impiannya. Sejak saat itu pula, Rudi jad masuk anggota PMR karena dia tau PMR itu memiliki sosialisasi yang tinggi pada setiap makhluk ciptaan Allah. Dan akhirnya, Rudi yang kini hidup sebagai pengembara selalu berusaha mencintai kehidupannya dan makhluk sesamanya.
“Ibu, Ayah…, aku akan berjuang menjadi yang terbaik untuk kalian, walau tak ada kalian disampingku. Tapi, ada cinta kalian dalam hatiku, selamanya …

Karya : Indah Novitasari
S_E_L_E_S_A_I

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar