Dinamis, kreatif, kekeluargaan

Loading...

YOUTH FOR THE FUTURE

SELAMAT DATANG DI BLOG PMR UNIT SMPN 18 KOTA BOGOR

Selasa, 22 Maret 2011

10 Langkah Untuk Mengambil Keputusan Yang Baik


Berikut ini diuraikan 10 langkah dalam proses pengambilan keputusan yang baik :

1. Mengetahui kebutuhan dan masalah yang dihadapi
2. Mengetahui kemampuan diri yang sebenarnya, mana yang bisa di capai dan mana yang tidak bias dicapai
3. Menimbang-nimbang berbagai cara tindakan dan dampak dari tindakan tersebut kemudian memilih cara terbaik.
4. Memperhatikan dan mempertimbangkan perasaan dan pikiran pihak lain
5. Mengambil keputusan sendiri dan bertindak sesuai dengan keputusan tersebut pada waktunya
6. Memperlihatkan pada pihak lain yang berkaitan bahwa kita sudah mengambil keputusan dan akan mengambil tindakan yang perlu berkaitan dengan keputusan itu
7. Bersikaplah teguh dalam menghadapi godaan dan tekanan yang bermaksud merubah pikiran dan keputusan itu
8. Mempelajari bagaimana mengelola emosi, terutama emosi berkaitan dengan tindakan tersebut
9. Mencari bantuan atau dukungan bila diperluka
10. Memelihara hubungan baik dalam keluarga agar mereka tidak terganggu oleh keputusan yang diambil


Rabu, 16 Maret 2011

4 Sifat Buruk Penyebab Sakit

Sakit adalah kondisi yang sangat tidak menyenangkan. Selain harus bolak-balik ke dokter, segala aktivitas Anda pun bakal terganggu untuk beberapa waktu.

Sebagian besar penyakit memang disebabkan karena gaya hidup dan pola makan yang tidak benar. Tapi tahukah Anda? Bahwa beberapa peyakit yang menyebabkan tubuh Anda sakit ternyata berkaitan erat dengan kondisi emosi Anda yang tidak stabil, pikiran yang selalu negatif serta kepribadian “buruk” yang Anda miliki.

Nah, jika Anda sekarang merasa memiliki ‘satu’ kepribadian buruk yang masih ‘terpelihara’. Mungkin memang sekaranglah waktunya bagi Anda untuk menjadi pribadi yang menyenangkan sekaligus memiliki tubuh yang sehat dan fit.

Ingin tahu, sifat negatif apa saja yang dapat membuat tubuh Anda tidak sehat?

Pembosan “berat” = sakit kepala, arthritis, asma dan jantung
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara kebosanan dan sakit kepala yang Anda alami. Sekarang tanyakan pada diri Anda sendiri, apakah hari-hari Anda selama ini terlihat monoton dan Anda hanya melakukan aktifitas yang itu-itu saja setiap hari? Jika ya, kemungkinan Anda akan mudah terserang penyakit Arthritis, asma, atau penyakit jantung. Alasannya adalah rasa bosan pada diri Anda dapat melahirkan emosi negatif pada tubuh, sehingga dengan mudah meningkatkan stres dan memperlemah sistim kekebalan tubuh sehingga Anda akan dengan mudah diserang berbagai penyakit. Tak hanya itu, kebosanan juga dapat mempengaruhi kebiasaan makan Anda. Apakah masih teringat bagaimana Anda menghabiskan begitu banyak cemilan manis atau asin saat menunggu seseorang?

Rasa cemas dan panik berlebihan = gangguan lambung
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Douglas Drossman, seorang dosen kedokteran dari University of North Carolina, ditemukan bahwa perempuan yang memiliki rasa cemas yang berlebihan pada hal-hal kecil sekalipun akan dengan mudah terserang gangguan pada lambungnya.

Tidak sabaran dan emosional = penyakit jantung dan stroke
Anda gampang gusar jika ada hal-hal kecil yang menganggu? Atau Anda gampang naik pitam saat seseorang membuat kesalahan di depan Anda? Jika jawaban untuk semua pertanyaan di atas ya, maka berhati-hatilah. Rasa marah serta ketidaksabaran ternyata dapat mengaktifkan sistem kardiovaskuler secara terus menerus. Selanjutnya tekanan darah Anda akan cepat naik, kecepatan pernapasan akan meninggi dan otot menjadi tegang. Akhirnya Anda terserang penyakit jantung dan stroke.

Tidak percaya diri dan rendah diri berlebihan = gampang sakit
Biasanya orang yang memiliki sikap mental yang seperti ini sering terlibat pada hubungan yang buruk. Baik itu dalam lingkungan pergaulannya maupun dalam keluarganya. Perasaan rendah diri menyebabkan proses penyembuhan untuk setiap penyakit pada dirinya akan terhambat, meskipun Anda hanya sekedar menderita sakit flu ringan, wah!

Jadi, sekarang terserah pada diri Anda. Ingin jadi pribadi yang gembira dan menyenangkan sekaligus sehat. Atau justru sebaliknya?

Sumber: http://www.conectique.com

Senin, 07 Maret 2011

9 Makanan Penambah Umur Anda

Konon ada 9 makanan yang dapat menambah umur panjang jika Anda konsumsi secara rutin. Makanan apa sajakah itu?

1. Brokoli
Menurut para ahli, brokoli mengandung lebih banyak vitamin C dari pada buah jeruk, lebih banyak mengandung kalsium dari pada segelas susu dan lebih banyak mengandung serat alami dari pada setangkup roti gandum serta mengandung cukup banyak antioksidan
\"\"
Keuntungan : Sayur brokoli merupakan salah satu sayuran yang mengandung banyak anti karsinogen yang dapat merangsang tubuh untuk melawan zat-zat penyebab kanker. Bukan hanya itu saja, brokoli juga berfungsi untuk mencegah terjadinya katarak, penyakit jantung, radang sendi, bisul dan berbagai virus.

Penyajian : Anda mendapat keuntungan yang maksimal jika Anda mengkonsumsi brokolo itu dengan cara direbus atau disantap mentah. Bisa juga dibuat salad dengan taburan keju rendah lemak.

2. Chamomile
Chamomile masih termasuk keluarga bunga aster dan biasanya digunakan untuk pengobatan.
\"\"
Keuntungan : Chamomile biasanya digunakan untuk mengendurkan urat syaraf. Umumnya digunakan untuk mengurangi stress dan tekanan. Semakin sedikit kadar stress yang Anda derita, maka semakin rendah juga kemungkinan Anda terserang berbagai penyakit yang berkaitan dengan stress. Selain itu Chamomile juga membantu detoksifikasi tubuh dengan cara membuang \”sampah-sampah\” tidak berguna melalui ginjal.

Penyajian : Chamomile dapat dikonsumsi seperti makanan kering atau diseduh. Dapat pula dicelupkan ke air hangat seperti teh.

3. Cranberries
Buah yang masih termasuk keluarga berry ini mengandung vitamin c, zat kimia pemberantas bakteri dan mengandung antioksidan.
\"\"
Keuntungan : Cranberries membantu melindungi terjadinya infeksi saluran kemih, kanker dan juga melindungi masuknya bakteri berbahaya ke organ-organ tubuh.

Penyajian : Buah ini memang mempunyai manfaat yang \”manis\” bagi tubuh namun menyantap buah ini mentah-mentah sangatlah asam. Jika Anda senang menyantap buah, coba padukan dengan muffin gandum. Tapi bila Anda ingin mengambil keuntungan maksimal dari buah ini, cobalah meminum campuran jus cranberries dan apel agar rasanya tidak terlalu asam.

4. Minyak Ikan
Beberapa ikan seperti salmon, mackerel atau ikan haring terkenal sebagai penghasil omega-3.
\"\"
Keuntungan : Mengkonsumsi ikan jenis ini dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan juga melindungi Anda agar tidak terjadi stroke dan pembekuan darah di otak

Penyajian : Anda dapat mengkonsumsi secara mentah seperti menyantap sushi atau bisa juga dipanggang.

5. Lemon
Buah lemon masih merupakan kerabat yang dekat dengan buah jeruk dan buah ini juga mengandung banyak sekali vitamin C.
\"\"
Keuntungan : Selain bermanfaat untuk menjaga kecantikan wajah, ternyata jus lemon juga mengandung sifat sebagai anti bakteri yang mana sangat baik untuk memerangi infeksi di mulut seperti sariawan dan sakit tenggorokan.

Penyajian : Coba peras buah lemon di atas ikan salmon ketika Anda sedang ingin menyantap sushi, bisa juga dengan meminum perasan lemon yang dicampur dengan air atau menambahkan perasan air lemon itu di salad Anda.

6. Bawang
Menurut para ahli, bawang juga kaya akan vitamin c, zat antioksidan dan sulfur.
\"\"
Keuntungan : Memang ironis karena bawang membuat nafas Anda kurang sedap tapi ternyata mampu melindungi Anda dari berbagai penyakit pernafasan seperti asma dan adang saluran pernafasan. Tidak hanya itu saja, ternyata bawang juga mampu menaikkan kadar HDL atau kolesterol baik dalam darah dan melindungi Anda dari ancaman kanker.

Penyajian : Cara terbaik untuk mengkonsumsi bawang adalah dengan memakan secara mentah dalam salad atau sandwich. Dan bawang yang terbaik untuk dikonsumsi adalah bawang merah dan bawang putih.

7. Gandum
Gandum mempunyai kandungan kalsium yang tinggi, selain itu juga mempunyai serat alami yang terbaik bagi Anda yang ingin melakukan diet.
\"\"
Keuntungan : Jika Anda ingin menikmati hidup panjang dengan tubuh yang sehat, cobalah untuk beralih ke gandum. Gandum berfungsi untuk melindungi gigi Anda agar tidak mudah rapuh dan juga mencegah kekeroposan tulang sehingga Anda tidak terkena osteoporosis. Selain itu gandum juga merupakan bahan makanan yang rendah kolesterol, dapat mengurangi tekanan darah dan memerangi kanker usus.

Penyajian : Cara penyajian terbaik tidak lain yaitu dengan memasaknya di atas api kecil atau dengan di seduh air panas.

8. Tomat
Buah yang satu ini tentu tidak asing lagi dalam hidup Anda. Dengan harga yang murah meriah dan manfaat yang luar biasa, tidak heran jika buah ini menjadi favorit banyak orang.
\"\"
Keuntungan : Tomat dapat menaikkan sistem kekebalan tubuh seseorang, mengurangi penyebaran kuman di tubuh dan mengurangi resiko terkena kanker terutama kanker prostat, paru dan kanker usus.

Penyajian : Menurut para ahli, tomat yang telah dimasak mengandung kadar lycopene yang lebih tinggi dari tomat mentah. Tomat kalengan malah mengandung 3 kali lipat kadar lycopene dari pada tomat segar sedangkan saus tomat mengandung 5 kali lipat kadar lycopene dari pada tomat mentah.

9. Teh Hijau
Teh yang sangat terkenal di negara Jepang ini memang memiliki banyak kandungan vitamin seperti A, C dan E yang juga berfungsi sebagai antioksidan.
\"\"
Keuntungan : Tahukah Anda bahwa teh hijau lebih kuat dari pedang samurai karena dapat mencegah oksidasi sel yang pada gilirannya akan berubah menjadi kanker. Selain itu teh hijau ini ternyata berkhasiat untuk membangun pertahanan bagi sistem kekebalan tubuh dan mengencerkan darah untuk melawan penyakit jantung.

Penyajian : Sama seperti Anda hendak meminum teh biasa. Coba seduh teh hijau dengan air panas di cangkir Anda. Biarkan selama beberapa waktu. Semakin lama teh hijau itu terendam, semakin baik hasilnya bagi tubuh Anda.

sumber :http://forum.detik.com/9-makanan-penambah-umur-panjang-t214034.html

Cara Memberi Pernapasan Buatan (CPR) yang Benar

Dengan melakukan CPR, kita bisa memperpanjang harapan hidup orang yang tak sadarkan diri. Maka itu penting untuk mengetahui bagaimana melakukan CPR yang benar.

CPR adalah teknik yang bisa dilakukan sebagai pertolongan pertama jika seseorang terkena serangan jantung. Teknik ini berfungsi untuk menormalkan detak jantung yang jika terkena serangan bergeraknya abnormal. Dengan ditekan maka detak jantung dengan sendirinya akan kembali normal.

\”Teknik CPR berguna untuk mengaktifkan jantung kembali sehingga peredaran darah ke otak menjadi lancar dan mencegah matinya organ otak,\” ujar EMT Anwar Buchari, Manager Operation dari Medic One, dalam acara Life Saver CPR Competency, di Wisma GKBI, Jakarta, Selasa (22/12/2009).

Anwar menambahkan jika otak tidak mendapatkan asupan oksigen selama 4 menit, maka organ otak ini tidak akan berfungsi kembali dan dengan sendirinya organ-organ lain dalam tubuh juga akan mati sehingga menurunkan harapan hidup dari orang tersebut.

Untuk itu Anwar memberikan beberapa teknik yang bisa dilakukan dalam melakukan CPR, yaitu:

1. Cek bahaya dan keselamatan (Danger/safety)
Sebelum melakukan pertolongan pastikan pasien serangan jantung berada di tempat yang aman dan terhindar dari bahaya.

2. Cek respons (Respone)
Ketahui apakah orang tersebut masih sadar atau tidak. Caranya dengan menepuk-nepuk pundak orang sambil berteriak dengan suara yang keras. Misalnya \”Pak, bisa dengar suara saya?\”. Jika tidak ada respons dari pasien, maka segera hubungi ambulance atau petugas medis.

3. Buka jalur pernapasan (Airway)
Sambil menunggu petugas medis datang, orang terdekat bisa membuka jalur pernapasan dengan cara tangan kiri memegang dahi sambil ditarik ke belakang dan tangan kanan menarik dagu ke bawah. Dekatkan telinga ke pasien sambil melihat, mendengar dan merasakan ada napas atau tidak selama 5 sampai 10 detik.

4. Berikan napas buatan (Breaths)
Jika tidak ada napas maka berikan napas buatan dengan cara menutup hidung dan meniupkan napas dari mulut ke mulut sebanyak 2 kali selama 2 detik. Saat melakukan hal ini mata memperhatikan dada orang tersebut, apakah bergerak atau tidak.

5.Berikan tekanan (Compression)
Setelah memberikan 2 kali napas buatan, maka beri tekanan pada bagian dada. Untuk orang dewasa letakkan kedua tangan di tengah-tengah dada sambil ditekan dengan posisi tangan lurus, tapi untuk anak-anak hanya menggunakan satu tangan saja. Tekan sepertiga bagian dada sebanyak 30 kali.

6. Lakukan secara berulang
Setelah melakukan 30 kali tekanan, beri napas buatan kembali sebanyak 2 kali lalu tekanan sebanyak 30 kali. Lakukan hal ini selama 2 menit.

7. Cek pernapasannya kembali
Jika sudah dilakukan 5 kali set dengan perbandingan 2 napas buatan dan 30 kali tekanan dada (2:30) atau selama 2 menit, maka cek apakah pasien sudah bisa bernapas atau belum. Jika belum maka ulangi kembali perbandingan 2:30 tersebut hingga petugas medis datang.

8. Jika pasien sudah bisa bernapas
Apabila setelah dua menit pasien bernapas, maka letakkan pada recovery position. Yaitu dalam posisi terlentang letakkan tangan kiri ke atas dan tangan kanan menyilang ke telinga, tekuk kaki kanan lalu miringkan pasien ke arah kiri dengan mendorong pundak dan kakinya secara bersamaan. Namun jika pasien tidak bernapas lagi, terlentangkan kembali dan berikan napas buatan serta tekanan di dada.

\”Tapi jika seseorang pingsan karena korban trauma dalam arti mengalami benturan, maka tidak boleh dipindahkan. Biarkan saja posisinya hingga petugas medis datang, karena salah melakukan gerakan kepala satu derajat saja bisa berakibat fatal seperti lumpuh atau kematian

Nafas Buatan (Resusitasi Jantung Paru)

Nafas Buatan disebut juga Resusitasi Jantung Paru atau Bantuan Hidup Dasar atau CPR (CardioPulmonary Resuscitation), merupakan suatu tindakan kegawatan sederhana tanpa menggunakan alat bertujuan menyelamatkan nyawa seseorang dalam waktu yang sangat singkat.

Prinsip utamanya adalah, orang yang tidak bernafas dan atau jantungnya tidak berdetak (Henti Jantung)

1. Orang yang tidak bernafas

Henti napas ditandai dengan tidak adanya gerakan dada dan aliran udara pernapasan dari korban/pasien. Henti napas merupakan kasus yang harus dilakukan tindakan Bantuan Hidup Dasar. Henti napas dapat terjadi pada keadaan:

* Tenggelam
* Stroke (Mempunyai riwayat hipertensi, trus tiba-tiba jatuh/pingsan)
* Obstruksi jalan napas (Kerusakan daerah tenggorokan)
* Epiglotitis (Peradangan Pita Suara)
* Overdosis obat-obatan
* Tersengat listrik
* Infark miokard (Serangan Jantung)
* Tersambar petir
* Koma akibat berbagai macam kasus (Pingsan tanpa penyebab)

Pada awal henti napas oksigen masih dapat masuk kedalam darah untuk beberapa menit dan jantung masih dapat mensirkulasikan darah ke otak dan organ vital lainnya, jika pada keadaan ini diberikan bantuan napas akan sangat bermanfaat agar korban dapat tetap hidup dan mencegah henti jantung.

2. Henti jantung

Pada saat terjadi henti jantung, secara langsung akan terjadi henti sirkulasi darah. Henti sirkulasi ini akan dengan cepat menyebabkan otak dan organ vital kekurangan oksigen. Pernapasan yang terganggu (tersengal-sengal) merupakan tanda awal akan terjadinya henti jantung.

Jika Kita Bertemu Dengan Orang Seperti Diatas, Apa Yang Kita Lakukan ?

Ada dua prinsip penting, yaitu pertama jika kita bertemu dengan orang seperti diatas, jangan lupa untuk memanggil bantuan, karna RJP hanyalah tindakan pertolongan partama yang selanjutnya perlu tindakan medis, yang kedua pastikan kondisinya memang sesuai dengan kriteria RJP melalui pemeriksaan primer.

See Picture :


(Skema RJP)

Pemeriksaan Primer

Prinsip pemeriksaan primer adalah bantuan napas dan bantuan sirkulasi. Untuk dapat mengingat dengan mudah tindakan survei primer dirumuskan dengan abjad A, B, C, yaitu :

· A airway (jalan napas)

· B breathing (bantuan napas)

· C circulation (bantuan sirkulasi)

Sebelum melakukan tahapan A (airway), harus terlebih dahulu dilakukan prosedur awal pada korban/pasien, yaitu :

1. Memastikan keamanan lingkungan bagi penolong

2. Memastikan kesadaran dari korban/pasien.

Untuk memastikan korban dalam keadaan sadar atau tidak penolong harus melakukan upaya agar dapat memastikan kesadaran korban/pasien, dapat dengan cara menyentuh atau menggoyangkan bahu korban/pasien dengan lembut dan mantap untuk mencegah pergerakan yang berlebihan, sambil memanggil namanya atau Pak !!! / Bu!!! / Mas!!! /Mbak !!!.

3. Meminta pertolongan.

Jika ternyata korban/pasien tidak memberikan respon terhadap panggilan, segera minta bantuan dengan cara berteriak “Tolong !!!” untuk mengaktifkan sistem pelayanan medis yang lebih lanjut.

4. Memperbaiki posisi korban/pasien.

Untuk melakukan tindakan RJP yang efektif, korban/pasien harus dalam posisi terlentang dan berada pada permukaan yang rata dan keras. jika korban ditemukan dalam posisi miring atau tengkurap, ubahlah posisi korban ke posisi terlentang. Ingat! penolong harus membalikkan korban sebagai satu kesatuan antara kepala, leher dan bahu digerakkan secara bersama-sama. Jika posisi sudah terlentang, korban harus dipertahankan pada posisi horisontal dengan alas tidur yang keras dan kedua tangan diletakkan di samping tubuh.

5.Mengatur posisi penolong.

Segera berlutut sejajar dengan bahu korban agar saat memberikan bantuan napas dan sirkulasi, penolong tidak perlu mengubah posisi atau menggerakkan lutut.

See Picture:



(Posisi Penolong Yang Benar)


A. (AIRWAY) Jalan Napas

Setelah selesai melakukan prosedur dasar, kemudian dilanjutkan dengan melakukkan tindakan :

a) Pemeriksaan jalan napas

Tindakan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan jalan napas oleh benda asing. Jika terdapat sumbatan harus dibersihkan dahulu, kalau sumbatan berupa cairan dapat dibersihkan dengan jari telunjuk atau jari tengah yang dilapisi dengan sepotong kain, sedangkan sumbatan oleh benda keras dapat dikorek dengan menggunakan jari telunjuk yang dibengkokkan. Mulut dapat dibuka dengan tehnik Cross Finger, dimana ibu jari diletakkan berlawanan dengan jari telunjuk Pada mulut korban.

b) Membuka jalan napas

Setelah jalan napas dipastikan bebas dari sumbatan benda asing, biasa pada korban tidak sadar tonus otot-otot menghilang, maka lidah dan epiglotis akan menutup farink dan larink, inilah salah satu penyebab sumbatan jalan napas. Pembebasan jalan napas oleh lidah dapat dilakukan dengan cara Tengadah kepala topang dagu (Head tild – chin lift) dan Manuver Pendorongan Mandibula (Rahang Bawah).

B. (BREATHING) Bantuan napas

Prinsipnya adalah memberikan 2 kali ventilasi sebelum kompresi dan memberikan 2 kali ventilasi per 10 detik pada saat setelah kompresi. Terdiri dari 2 tahap :

1. Memastikan korban/pasien tidak bernapas.

Dengan cara melihat pergerakan naik turunnya dada, mendengar bunyi napas dan merasakan hembusan napas korban/pasien. Untuk itu penolong harus mendekatkan telinga di atas mulut dan hidung korban/pasien, sambil tetap mempertahankan jalan napas tetap terbuka. Prosedur ini dilakukan tidak boleh melebihi 10 detik.

2. Memberikan bantuan napas.

Jika korban/pasien tidak bernapas, bantuan napas dapat dilakukkan melalui mulut ke mulut, mulut ke hidung atau mulut ke stoma (lubang yang dibuat pada tenggorokan) dengan cara memberikan hembusan napas sebanyak 2 kali hembusan, waktu yang dibutuhkan untuk tiap kali hembusan adalah 1,5 – 2 detik dan volume udara yang dihembuskan adalah 7000 – 1000 ml (10 ml/kg) atau sampai dada korban/pasien terlihat mengembang. Penolong harus menarik napas dalam pada saat akan menghembuskan napas agar tercapai volume udara yang cukup. Konsentrasi oksigen yang dapat diberikan hanya 16 – 17%. Penolong juga harus memperhatikan respon dari korban/pasien setelah diberikan bantuan napas.

Cara memberikan bantuan pernapasan :

o Mulut ke mulut

Bantuan pernapasan dengan menggunakan cara ini merupakan cara yang tepat dan efektif untuk memberikan udara ke paru-paru korban/pasien. Pada saat dilakukan hembusan napas dari mulut ke mulut, penolong harus mengambil napas dalam terlebih dahulu dan mulut penolong harus dapat menutup seluruhnya mulut korban dengan baik agar tidak terjadi kebocoran saat mengghembuskan napas dan juga penolong harus menutup lubang hidung korban/pasien dengan ibu jari dan jari telunjuk untuk mencegah udara keluar kembali dari hidung. Volume udara yang diberikan pada kebanyakkan orang dewasa adalah 700 – 1000 ml (10 ml/kg). Volume udara yang berlebihan dan laju inpirasi yang terlalu cepat dapat menyebabkan udara memasuki lambung, sehingga terjadi distensi lambung.

o Mulut ke hidung

Teknik ini direkomendasikan jika usaha ventilasi dari mulut korban tidak memungkinkan, misalnya pada Trismus atau dimana mulut korban mengalami luka yang berat, dan sebaliknya jika melalui mulut ke hidung, penolong harus menutup mulut korban/pasien.

o Mulut ke Stoma

Pasien yang mengalami laringotomi mempunyai lubang (stoma) yang menghubungkan trakhea langsung ke kulit. Bila pasien mengalami kesulitan pernapasan maka harus dilakukan ventilasi dari mulut ke stoma.

C.(CIRCULATION) Bantuan sirkulasi

Terdiri dari 2 tahapan :

1. Memastikan ada tidaknya denyut jantung korban/pasien.

Ada tidaknya denyut jantung korban/pasien dapat ditentukan dengan meraba arteri karotis di daerah leher korban/ pasien, dengan dua atau tiga jari tangan (jari telunjuk dan tengah) penolong dapat meraba pertengahan leher sehingga teraba trakhea, kemudian kedua jari digeser ke bagian sisi kanan atau kiri kira-kira 1 – 2 cm raba dengan lembut selama 5 – 10 detik.

Jika teraba denyutan nadi, penolong harus kembali memeriksa pernapasan korban dengan melakukan manuver tengadah kepala topang dagu untuk menilai pernapasan korban/pasien. Jika tidak bernapas lakukan bantuan pernapasan, dan jika bernapas pertahankan jalan napas.

checkpulse

2. Memberikan bantuan sirkulasi.

Jika telah dipastikan tidak ada denyut jantung, selanjutnya dapat diberikan bantuan sirkulasi atau yang disebut dengan kompresi jantung luar, dilakukan dengan teknik sebagai berikut :

o Dengan jari telunjuk dan jari tengah penolong menelusuri tulang iga kanan atau kiri sehingga bertemu dengan tulang dada (sternum).

compressionhand

o Dari pertemuan tulang iga (tulang sternum) diukur kurang lebih 2 atau 3 jari ke atas. Daerah tersebut merupakan tempat untuk meletakan tangan penolong dalam memberikan bantuan sirkulasi.

chestcompressions

o Letakkan kedua tangan pada posisi tadi dengan cara menumpuk satu telapak tangan di atas telapak tangan yang lainnya, hindari jari-jari tangan menyentuh dinding dada korban/pasien, jari-jari tangan dapat diluruskan atau menyilang.

o Dengan posisi badan tegak lurus, penolong menekan dinding dada korban dengan tenaga dari berat badannya secara teratur sebanyak 30 kali (dalam 15 detik = 30 kali kompresi) dengan kedalaman penekanan berkisar antara 1.5 – 2 inci (3,8 – 5 cm).

chestcompressions2

o Tekanan pada dada harus dilepaskan keseluruhannya dan dada dibiarkan mengembang kembali ke posisi semula setiap kali melakukan kompresi dada. Selang waktu yang dipergunakan untuk melepaskan kompresi harus sama dengan pada saat melakukan kompresi. (50% Duty Cycle).

o Tangan tidak boleh lepas dari permukaan dada dan atau merubah posisi tangan pada saat melepaskan kompresi.

o Rasio bantuan sirkulasi dan pemberian napas adalah 30 : 2 (Tiap 15 detik = 30 kompresi dan 2 kali tiupan nafas), dilakukan baik oleh 1 atau 2 penolong.

Dari tindakan kompresi yang benar hanya akan mencapai tekanan sistolik 60 – 80 mmHg, dan diastolik yang sangat rendah, sedangkan curah jantung (cardiac output) hanya 25% dari curah jantung normal. Selang waktu mulai dari menemukan pasien dan dilakukan prosedur dasar sampai dilakukannya tindakan bantuan sirkulasi (kompresi dada) tidak boleh melebihi 30 detik.

RINGKASAN MELAKUKAN RJP (RESUSITASI JANTUNG PARU)

Sebagai Ringkasan, Penolong dapat mengikuti urutan sebagai berikut :

1. Penilaian korban

Tentukan kesadaran korban/pasien (sentuh dan goyangkan korban dengan lembut dan mantap), jika tidak sadar, maka

2. Minta pertolongan serta aktifkan sistem emergensi

3. Jalan napas (AIRWAY)

o Posisikan korban/pasien

o Buka jalan napas dengan manuver tengadah kepala-topang dagu.

4. Pernapasan (BREATHING)

Nilai pernapasan untuk melihat ada tidaknya pernapasan dan adekuat atau tidak pernapasan korban/pasien.

5. Jika korban/pasien dewasa tidak sadar dengan napas spontan, serta tidak ada trauma leher (trauma tulang belakang) posisikan korban pada posisi mantap (Recovery positiotion), dengan tetap menjaga jalan napas tetap terbuka.

6. Jika korban/pasien dewasa tidak sadar dan tidak bernapas, lakukkan bantuan napas. Di Amerika serikat dan di negara lainnya dilakukan bantuan napas awal sebanyak 2 kali, sedangkan di Eropa, Australia, New Zealand diberikan 5 kali. Jika pemberian napas awal terdapat kesulitan, dapat dicoba dengan membetulkan posisi kepala korban/pasien, atau ternyata tidak bisa juga maka dilakukan :

ü Untuk orang awam dapat dilanjutkan dengan kompresi dada sebanyak 30 kali dan 2 kali ventilasi, setiap kali membuka jalan napas untuk menghembuskan napas, sambil mencari benda yang menyumbat di jalan napas, jika terlihat usahakan dikeluarkan.

ü Untuk petugas kesehatan yang terlatih dilakukan manajemen obstruksi jalan napas oleh benda asing.

ü Pastikan dada pasien mengembang pada saat diberikan bantuan pernapasan.

ü Setelah memberikan napas 12 kali (1 menit), nilai kembali tanda-tanda adanya sirkulasi dengan meraba arteri karotis, bila nadi ada cek napas, jika tidak bernapas lanjutkan kembali bantuan napas.

7. Sirkulasi (CIRCULATION)

Periksa tanda-tanda adanya sirkulasi setelah memberikan 2 kali bantuan pernapasan dengan cara melihat ada tidaknva pernapasan spontan, batuk atau pergerakan. Untuk petugas kesehatan terlatih hendaknya memeriksa denyut nadi pada arteri Karotis.

1. jika ada tanda-tanda sirkulasi, dan ada denyut nadi tidak dilakukan kompresi dada, hanya menilai pernapasan korban/pasien (ada atau tidak ada pernapasan)
2. Jika tidak ada tanda-tanda sirkulasi, denvut nadi tidak ada lakukan kompresi dada
* Letakkan telapak tangan pada posisi yang benar
* Lakukan kompresi dada sebanyak 30 kali tiap 10 detik
* Buka jalan napas dan berikan 2 kali bantuan pernapasan.
* Letakkan kembali telapak tangan pada posisi yang tepat dan mulai kembali kompresi 30 kali tiap 10 detik.
* Lakukan 4 siklus secara lengkap (30 kompresi dan 2 kali bantuan pernapasan)

8. Penilaian Ulang

Sesudah 4 siklus ventilasi dan kompresi kemudian korban dievaluasi kembali,

ü Jika tidak ada nadi dilakukan kembali kompresi dan bantuan

napas dengan rasio 30 : 2.

ü Jika ada napas dan denyut nadi teraba letakkan korban pada posisi mantap

ü Jika tidak ada napas tetapi nadi teraba, berikan bantuan napas sebanyak 10 – 12 kali permenit dan monitor nadi setiap saat.

ü Jika sudah terdapat pernapasan spontan dan adekuat serta nadi teraba, jaga agar jalan napas tetap terbuka kemudian korban/pasien ditidurkan pada posisi sisi mantap.

Sabtu, 18 Desember 2010

Teknik menolong di air

Dalam melakukan pertolongan, kecepatan bukanlah segalanya. Ketepatan yang di dasari oleh keselamatan adalah unsur yang harus diutamakan. Satu hal yang perlu diingat, menolong korban di air tidak perlu menjadi basah. Prinsip utamanya adalah menolong dengan teknik se-aman mungkin bagi penolong.

Berikut di bawah ini beberapa teknik menolong orang di air dari mulai yang paling aman :

RAIH

Ini adalah teknik yang paling aman sehingga dapat dilakukan oleh yang tidak bisa renang sekalipun. Dengan cara menggunakan tongkat sehingga dapat mencapai korban dan menariknya ke tepi.

Kelemahan : Hanya dapat menggapai korban yang berada di dekat tepi air.

Perhatian : Jika tarikan korban/arus air terlalu kuat sehingga anda merasa tertarik ke arah air, maka lepaskanlah tongkat tadi. INGAT keselamatan diri anda yang paling utama.

LEMPAR

Jika tidak dapat menemukan tongkat yang cukup panjang untuk mencapai korban, maka carilah bahan yang bisa mengapung (ringbuoy, jerigen dll), bisa juga menggunakan tali. Lemparkan bahan tadi ke arah korban. Jika anda berada di kolam renang umum, maka gunakanlah ringbuoy (ban pelampung) yang ada di tepi kolam.

Teknik : Panggil korban terlebih dahulu sebelum melempar. Hal ini berfungsi supaya korban melihat benda dan arah lemparan kita. mengkombinasikan pelampung dengan tali sangat berfungsi saat lemparan kita tidak tepat.

Kelemahan : Kadang lemparan kita tidak pas pada korban, sehingga sering kali pelampung yang kita lempar menjadi sia-sia.

Perhatian : Kadang lemparan terlalu dekat sehingga kita terpancing untuk mengambil pelampung itu kembali. tindakan ini sangat membahayakan kita terutama bagi yang tidak bisa renang. Lebih baik cari pelampung yang lain untuk dilempar. Tali lempar, tidak boleh diikatkan di tubuh penolong, karena akan membahayakan bila arus sangat deras atau tarikan korban terlalu kuat.

DAYUNG

Jika anda sedang di perahu (terutama jenis kano/kayak) berhati-hatilah saat mendekati korban. Kekuatan korban saat panik sangat berbahaya dan dapat membalikkan perahu yang anda tumpangi.

Teknik : Dekati korban dari ujung yang berlawanan dengan tempat kita duduk. Hal ini dimaksudkan apabila perahu terbalik, posisi kita agak jauh dari korban sehingga mengurangi resiko tertangkap korban.

Perhatian : Jika anda menggunakan perahu kecil, anda tidak bisa berenang dan tidak menggunakan jaket pelampung, maka lebih baik tidak berusaha untuk mendekati korban.

RENANG

Berenang mendekati korban adalah pilihan terakhir jika cara lain tidak memungkinkan untuk dilakukan.

Pengetahuan kita tentang karakteristik korban yang sedang tenggelam akan sangat menentukan teknik yang dipilih saat melakukan pertolongan. Tentunya disesuaikan dengan karakteristik korbannya.

Secara umum, korban yang sedang tenggelam di bagi menjadi 4 tipe :

1. Bukan seorang perenang (non swimmer)

Pada tipe ini, korban memiliki karakteristik

* Posisi badan terlihat tegak lurus dengan permukaan air (vertikal)
* Gerakan kasar dan cenderung tidak berpola
* Wajah terlihat sangat panik
* Arah tatapan tidak jelas
* Hanya fokus untuk mengambil napas

Saat ditolong

* Mungkin akan berusaha untuk meraih penolong
* Tidak dapat mengikuti perintah atau tidak dapat komunikasi
* Selalu ingin dalam posisi vertikal, sehingga cenderung panik jika ditolong dalam keadaan horisontal
* Selalu berusaha kepala dan dada berada di atas permukaan air

Yang di perhatikan penolong

* Korban tipe ini sangat berbahaya bagi penolong
* Sebisa mungkin hindari pertolongan dengan menggunakan teknik contact rescue /tow

2. Perenang yang cidera

Pada tipe ini, korban memiliki karakteristik

* Posisi badan mungkin terlihat agak aneh tergantung dari bagian tubuh yang cidera
* Gerakan terbatas disebabkan oleh cidera
* Wajah terlihat cemas, bahkan mungkin terlihat kesakitan
* Bisa terjadi panik

Saat ditolong

* Mungkin tidak merespon perintah karena lebih fokus terhadap rasa sakitnya
* Berusaha mempertahankan posisi karena biasanya memegangi area yang cidera

IYang diperhatikan penolong

* Kemungkinan akan membawa korban dalam posisi yang agak aneh (sesuai cideranya)
* Perhatikan cidera yang dialami

3. Perenang yang kelelahan

Pada tipe ini, korban memiliki karakteristik

* Terlihat pola kayuhan yang lemah
* Posisi badan biasanya membentuk sudut dengan permukaan air
* Wajah memandang ke tepian atau perahu yang di dekatnya
* kepala kadang tidak terlihat
* dapat melambai untuk meminta bantuan
* Wajah mungkin terlihat lelah atau cemas

Saat ditolong

* Merespon perintah penolong dengan baik
* Kooperatif saat ditawarkan bantuan
* Bisa di topang dalam keadaan terlentang

Yang diperhatikan penolong

* Dapat ditolong menggunakan teknik contact rescue
* Lebih mudah untuk ditolong

4. Tidak sadar (pasif)

Pada tipe ini, korban memiliki karakteristik

* Terlihat tidak bergerak
* Mungkin hanya terlihat sebagian punggung
* Mungkin hanya terlihat puncak kepala saja
* Wajah biasanya menghadap ke dasar

Saat ditolong

* Tidak kooperatif
* Mungkin akan cukup sulit untuk melakukan manuver terhadap tubuh korban

Yang diperhatikan penolong

* Buoyancy korban sangat bervariasi
* Membutuhkan pertolongan dengan teknik contact rescue
* Perhatikan pernapasan korban, jika tidak bernapas lakukan sesegera mungkin bantuan napas
* Penggunaan alat bantu apung (pelampung) akan sangat membantu dalam pemberian napas
* Kadang terjadi keadaan yang disebut pasif – aktif, yaitu keadaan dimana korban terlihat pasif (tidak bergerak) namun saat di sentuh berubah menjadi aktif. Ini sangat membahayakan penolong. Oleh karena itu lakukan teknik mendekati korban dengan benar.

Selain karakteristik korban tadi, juga diperlukan kemampuan untuk memperkirakan buoyancy dari korban dengan melihat postur tubuh terutama saat melakukan contact tow. Korban yang gemuk cenderung akan mudah mengapung, namun akan lebih berat saat menariknya ke tepi. Sebaliknya korban yang kurus cenderung akan mudah tenggelam, namun akan lebih ringan saat menariknya ke tepi.

Pertolongan di air

Ketrampilan pertolongan di air merupakan bagian dari keselamatan di air. Artinya jika anda ingin mempelajari pertolongan di air, anda wajib memahami terlebih dahulu keselamatan di air.

Seorang penolong harus dibekali dengan beberapa keahlian dasar

1. Keselamatan di air. Meliputi kemampuan mengenal potensi bahaya dan bagaimana mengatasinya
2. Memahami teknik pertolongan. Mulai dari yang paling aman sampai yang beresiko tinggi.
3. Renang. Kemampuan renang sangat dibutuhkan jika contact rescue adalah pilihan satu-satunya
4. Resusitasi Jantung Paru (RJP / CPR). Keahlian ini akan sangat dibutuhkan mengatasi kasus henti napas dan jantung yang sering terjadi pada korban tenggelam
5. Pertolongan Pertama / First Aid. Terutama untuk cidera-cidera yang sering terjadi di perairan

Apa yang harus kita lakukan bila melihat kecelakaan di air ?

1. Pastikan keselamatan anda terlebih dahulu. Abaikan orang lain jika anda sendiri sedang dalam posisi yang membahayakan diri anda
2. Pastikan keselamatan orang-orang di sekitar anda
3. Perhatikan potensi bahaya susulan yang mungkin bisa menimpa anda atau orang-orang di sekitar anda
4. Kenali karakteristik korban yang akan anda tolong
5. Lakukan pertolongan menggunakan teknik pertolongan yang paling aman dan efektif .
6. Jika terjadi terdapat banyak korban, tolonglah yang terdekat dan termudah terlebih dahulu
7. Setelah korban di tepi, lakukan pertolongan sesuai dengan cidera yang terjadi
8. Selimuti korban untuk mencegah hipothermia
9. Segera bawa korban ke pelayanan medis terdekat. Penanganan lebih lanjut mungkin saja diperlukan.

jangan remehkan pertolongan pertama

JANGAN remehkan pertolongan pertama. Artinya, pertolongan pertama sangat dibutuhkan untuk kondisi darurat. Selain itu, juga bisa menolong jiwa orang tersebut.

Karena itu, tidak ada salahnya mempelajari pertolongan pertama tersebut. Keadaan yang darurat bukan lagi menjadi satu hal yang aneh. Tetapi sayangnya, keadaan tersebut justru terkadang menjadi tontonan bagi mereka yang tidak tahu harus berbuat apa. Karena itu, penting sekali bagi setiap orang untuk mempelajari pemberian pertolongan pertama karena bisa sangat berarti untuk keselamatan nyawa seseorang.

Saat seseorang mengalami kecelakaan atau sakit yang tiba-tiba, maka yang dibutuhkan ialah pertolongan pertama kepada orang yang mendapat kecelakaan sebelum mendapatkan pertolongan dari tenaga medis. Pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) juga merupakan usaha untuk menyelamatkan nyawa mereka yang harus mendapat pertolongan.

“Pertolongan pertama merupakan suatu tindakan yang dilakukan segera setelah mengetahui adanya kondisi yang tidak seharusnya terjadi pada seseorang baik trauma maupun nontrauma, terlebih lagi jika kondisi tersebut mengancam nyawa,” ucap Kepala Gawat Darurat di Rumah Sakit Fatmawati Jakarta, dr Ugi Sugiri SpEM.

Ugi menjelaskan, pertolongan pertama harus diberikan secara cepat walaupun perawatan selanjutnya tertunda. Selain itu, juga harus tepat sehingga akan meringankan rasa sakit korban. Pertolongan pertama ini biasanya diberikan orang-orang di sekitar korban, yakni menghubungi petugas kesehatan terdekat.

Pertolongan ini pun harus diberikan secara cepat dan tepat, sebab penanganan yang salah dapat berakibat buruk, cacat tubuh, bahkan bisa menyebabkan kematian.

”Pertolongan pertama merupakan suatu hal yang jelas-jelas sangat penting, tentunya harus dilakukan oleh orang yang berkompeten,” tutur dokter umum yang juga berpraktik dan tergabung dalam tim dokter dari Medic One, Jakarta ini.


Untuk orang awam, kondisi yang tidak seharusnya terjadi pada seseorang kadang tidak disadari bahwa hal tersebut berpotensi pada ancaman nyawa seseorang, misal anak panas bisa menyebabkan kejang, atau mimisan (perdarahan hidung) yang bisa menyebabkan kehilangan banyak darah.

”Itulah sebabnya mengapa pertolongan pertama harus diajarkan pada siapa saja, bahkan First aid training ini sebaiknya sudah diajarkan atau diperkenalkan pada murid sekolah dasar mulai dari kelas satu,” saran Ugi.

Tujuan dari pertolongan pertama ini adalah untuk mencegah keadaan bertambah buruk sebelum si korban mendapatkan perawatan dari tenaga medis.
Oleh karena itu, tindakan pertolongan pertama ini bukanlah tindakan pengobatan sesungguhnya dari suatu diagnosis penyakit agar si penderita sembuh dari penyakit yang dialami.

Ugi menegaskan, yang jelas, pertolongan pertama ini diberikan pada seseorang dengan kondisi true life saving, seperti tidak sadar, henti napas, henti jantung, dan kejang. Atau penderita yang juga dengan kondisi yang berpotensi ancaman nyawa, luka dengan perdarahan, panas tinggi, patah tulang, gigitan serangga, alergi dan lainnya.

”Dalam memberikan pertolongan pertama, yang perlu diperhatikan adalah lakukan selama mampu, tetap tenang, gunakan alat aman di sekitar kita, melindungi diri dalam situasi ”danger area”, dan komunikasi dengan fasilitas kesehatan lebih lanjut,” jelas dokter lulusan Universitas Trisakti Fakultas Kedokteran ini.

Saat ini banyak institusi yang menyelenggarakan “first aid training”, pengetahuan ini yang harus mereka miliki sebagai dasar, karena di dalamnya memberikan pengetahuan tentang kondisi-kondisi kegawatan yang sering ditemukan sehari-hari serta penanganannya.

”Melatih orang agar terus waspada terhadap kondisi darurat menjadi hal yang utama, setidaknya mereka tahu bagaimana dasar yang harus dilakukan saat melakukan pertolongan pertama, dan itu bisa dilakukan dengan mengikuti pelatihan pertolongan pertama,” jelas Associate Director Medic One, Eldrin Kumendong.

Hal itu juga yang dilakukan Medic One, sebuah perusahaan Emergency Medical Services (EMS) atau pelayanan bantuan medis darurat 24/7/365, yang didirikan oleh sejumlah dokter, paramedis, dan para profesional yang bergerak di bidang kesehatan, yang sangat memperhatikan terhadap kondisi kritis bagi masyarakat yang memerlukan bantuan dan tindakan yang cepat dan tanggap dalam menghadapi kondisi darurat.

”Kata kunci untuk melakukan pertolongan pertama dalam keadaan darurat adalah tidak panik dan dengan memperhatikan DR. ABC, yaitu Danger, Respons, Air way, Breathing, dan Circulations,” tuturnya.

D untuk danger, sebagai penolong, dia harus mengerti betul akan keadaan,termasuk keadaan bahaya, jangan sampai si penolong menjadi korban berikutnya. Perhatikan apakah keadaan sudah aman untuk korban dan kemudian apakah ada bahaya untuk kita. ”Segala sesuatu harus diperhitungkan, termasuk kondisi lingkungan,” tandasnya.

R untuk response, sama dengan kesadaran, kita harus mengecek kesadaran si pasien, bisa dimulai dengan memanggil. Jika dipanggil tidak berkali-kali sampai ia merespons, lakukan dengan sentuhan, sentuh penderita dengan punggung tangan kita.

”Jika ia merespons saat dipanggil, berarti kesadarannya masih tinggi, tetapi jika sadar dengan sentuhan berarti kesadarannya sudah melemah,” paparnya.

Jika penderita masih belum merespons juga, sadarkan dengan menekan (seperti mencubit) bagian pangkal kuku, supaya tidak berbekas. Jika ada respons, kita bisa lega. Jika sudah sadar, lakukan pengecekan, misal tidak ada kemungkinan patah tulang, atau yang lain. Cek respons juga bisa dilakukan dengan memberi bau sesuatu dekat hidung, seperti bau minyak kayu putih.

A untuk Air way atau jalan napas. Berikan jalan napas agar penderita menjadi terjaga. Jangan biarkan penderita dalam keadaan tidak mendapatkan udara. Tengokkan kepala ke sebelah kanan atau kiri, kemudian di dongakkan. Setelah jalan napas terbuka dengan keadaan mulut terbuka, lihat rahang dalamnya. Bantu untuk bersihkan jika ada sesuatu yang mengganggu jalan napasnya.

B untuk breathing atau bernapas. Jika air way sudah bersih, cek apakah jalan napasnya masih terbuka atau tidak, dengan cara look, lesson and feel. Lihat apakah jantungnya masih berdetak, dengarkan jantungnya dan rasakan. Tempelkan sedekat mungkin kepala kita dengan dada korban. Look atau lihat apakah dada naik turun, jika ya, berarti penderita menandakan napas, lesson atau dengarkan suara napasnya. Dan feel, rasakan jika ada napas.

”Jika seseorang bernapas dekat dengan kita, kita akan merasakan bulu roma menjadi merinding,” ujarnya.

Jika teknik lihat, dengarkan dan rasakan tidak ampuh, maka kita bisa melakukan teknik CPR (cardiopulmonary resuscitation) atau resutisasi pijat jantung.

”CPR harus dilakukan oleh orang yang juga mengerti tekniknya, jika tidak bisa melakukan teknik ini, maka sebaiknya tidak perlu melakukan karena dikhawatirkan akan mengancam nyawanya,”

PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN DALAM KEGIATAN ALAM TERBUKA

Pertolongan Pertama (PP) adalah perawatan pertama yang diberikan kepada orang yang mendapat kecelakaan atau sakit yang tiba-tiba datang sebelum mendapatkan pertolongan dari tenaga medis. Ini berarti:

1. Pertolongan Pertama harus diberikan secara cepat walaupun perawatan selanjutnya tertunda.
2. Pertolongan Pertama harus tepat sehingga akan meringankan sakit korban bukan menambah sakit korban.

DASAR-DASAR PERTOLONGAN PERTAMA

Pertolongan Pertama merupakan tindakan pertolongan yang diberikan terhadap korban dengan tujuan mencegah keadaan bertambah buruk sebelum si korban mendapatkan perawatan dari tenaga medis resmi. Jadi tindakan Pertolongan Pertama (PP) ini bukanlah tindakan pengobatan sesungguhnya dari suatu diagnosa penyakit agar si penderita sembuh dari penyakit yang dialami. Pertolongan Pertama biasanya diberikan oleh orang-orang disekitar korban yang diantaranya akan menghubungi petugas kesehatan terdekat. Pertolongan ini harus diberikan secara cepat dan tepat sebab penanganan yang salah dapat berakibat buruk, cacat tubuh bahkan kematian.

Namun sebelum kita memasuki pembahasan kearah penanggulangan atau pengobatan terhadap luka, akan lebih baik kita berbicara dulu mengenai pencegahan terhadap suatu kecelakaan (accident), terutama dalam kegiatan di alam bebas. Selain itu harus kita garis bawahi bahwa situasi dalam berkegiatan sering memerlukan bukan sekedar pengetahuan kita tentang pengobatan, namun lebih kepada pemahaman kita akan prinsip-prinsip pertolongan terhadap korban. Sekedar contoh, beberapa peralatan yang disebutkan dalam materi ini kemungkinan tidak selalu ada pada setiap kegiatan, aka kita dituntut kreatif dan mampu menguasai setiap keadaan.

a. Prinsip Dasar

Adapun prinsip-prinsip dasar dalam menangani suatu keadaan darurat tersebut diantaranya:

1.

Pastikan Anda bukan menjadi korban berikutnya. Seringkali kita lengah atau kurang berfikir panjang bila kita menjumpai suatu kecelakaan. Sebelum kita menolong korban, periksa dulu apakah tempat tersebut sudah aman atau masih dalam bahaya.
2.

Pakailah metode atau cara pertolongan yang cepat, mudah dan efesien. Hindarkan sikap sok pahlawan. Pergunakanlah sumberdaya yang ada baik alat, manusia maupun sarana pendukung lainnya. Bila Anda bekerja dalam tim, buatlah perencanaan yang matang dan dipahami oleh seluruh anggota.
3.

Biasakan membuat cataan tentang usaha-usaha pertolongan yang telah Anda lakukan, identitas korban, tempat dan waktu kejadian, dsb. Catatan ini berguna bila penderita mendapat rujukan atau pertolongan tambahan oleh pihak lain.

b. Sistematika Pertolongan Pertama

Secara umum urutan Pertolongan Pertama pada korban kecelakaan adalah :

1. Jangan Panik

Berlakulah cekatan tetapi tetap tenang. Apabila kecelakaan bersifat massal, korban-korban yang mendapat luka ringan dapat dikerahkan untuk membantu dan pertolongan diutamakan diberikan kepada korban yang menderita luka yang paling parah tapi masih mungkin untuk ditolong.

2. Jauhkan atau hindarkan korban dari kecelakaan berikutnya.

Pentingnya menjauhkan dari sumber kecelakaannya adalah untuk mencegah terjadinya kecelakan ulang yang akan memperberat kondisi korban. Keuntungan lainnya adalah penolong dapat memberikan pertolongan dengan tenang dan dapat lebih mengkonsentrasikan perhatiannya pada kondisi korban yang ditolongnya. Kerugian bila dilakukan secara tergesa-gesa yaitu dapat membahayakan atau memperparah kondisi korban.

3. Perhatikan pernafasan dan denyut jantung korban.

Bila pernafasan penderita berhenti segera kerjakan pernafasan bantuan.

1.

Pendarahan.

Pendarahan yang keluar pembuluh darah besar dapat membawa kematian dalam waktu 3-5 menit. Dengan menggunakan saputangan atau kain yang bersih tekan tempat pendarahan kuat-kuat kemudian ikatlah saputangan tadi dengan dasi, baju, ikat pinggang, atau apapun juga agar saputangan tersebut menekan luka-luka itu. Kalau lokasi luka memungkinkan, letakkan bagian pendarahan lebih tinggi dari bagian tubuh.

5. Perhatikan tanda-tanda shock.

Korban-korban ditelentangkan dengan bagian kepala lebih rendah dari letak anggota tubuh yang lain. Apabila korban muntah-muntah dalm keadaan setengah sadar, baringankan telungkup dengan letak kepala lebih rendah dari bagian tubuh yang lainnya. Cara ini juga dilakukan untuk korban-korban yang dikhawatirkan akan tersedak muntahan, darah, atau air dalam paru-parunya. Apabila penderita mengalami cidera di dada dan penderita sesak nafas (tapi masih sadar) letakkan dalam posisi setengah duduk.

6. Jangan memindahkan korban secara terburu-buru.

Korban tidak boleh dipindahakan dari tempatnya sebelum dapat dipastikan jenis dan keparahan cidera yang dialaminya kecuali bila tempat kecelakaan tidak memungkinkan bagi korban dibiarkan ditempat tersebut. Apabila korban hendak diusung terlebih dahulu pendarahan harus dihentikan serta tulang-tulang yang patah dibidai. Dalam mengusung korban usahakanlah supaya kepala korban tetap terlindung dan perhatikan jangan sampai saluran pernafasannya tersumbat oleh kotoran atau muntahan.

7. Segera transportasikan korban ke sentral pengobatan.

Setelah dilakukan pertolongan pertama pada korban setelah evakuasi korban ke sentral pengobatan, puskesmas atau rumah sakit. Perlu diingat bahwa pertolongan pertama hanyalah sebagai life saving dan mengurangi kecacatan, bukan terapi. Serahkan keputusan tindakan selanjutnya kepada dokter atau tenaga medis yang berkompeten.

KASUS-KASUS KECELAKAAN ATAU GANGGUAN DALAM KEGIATAN ALAM TERBUKA

Berikut adalah kasus-kasus kecelakaan atau gangguan yang sering terjadi dalam kegiatan di alam terbuka berikut gejala dan penanganannya:

a. Pingsan (Syncope/collapse) yaitu hilangnya kesadaran sementara karena otak kekurangan O2, lapar, terlalu banyak mengeluarkan tenaga, dehidrasi (kekurangan cairan tubuh), hiploglikemia, animea.

Gejala

*

Perasaan limbung
*

Pandangan berkunang-kunang
*

Telinga berdenging
*

Nafas tidak teratur
*

Muka pucat
*

Biji mata melebar
*

Lemas
*

Keringat dingin
*

Menguap berlebihan
*

Tak respon (beberapa menit)
*

Denyut nadi lambat

Penanganan

1.

Baringkan korban dalam posisi terlentang
2.

Tinggikan tungkai melebihi tinggi jantung
3.

Longgarkan pakaian yang mengikat dan hilangkan barang yang menghambat pernafasan
4.

Beri udara segar
5.

Periksa kemungkinan cedera lain
6.

Selimuti korban
7.

Korban diistirahatkan beberapa saat
8.

Bila tak segera sadar >> periksa nafas dan nadi >> posisi stabil >> Rujuk ke instansi kesehatan

b. Dehidrasi yaitu suatu keadaan dimana tubuh mengalami kekurangan cairan. Hal ini terjadi apabila cairan yang dikeluarkan tubuh melebihi cairan yang masuk. Keluarnya cairan ini biasanya disertai dengan elektrolit (K, Na, Cl, Ca). Dehidrasi disebabkan karena kurang minum dan disertai kehilangan cairan/banyak keringat karena udara terlalu panas atau aktivitas yang terlalu berlebihan.

Gejala dan tanda dehidrasi

Dehidrasi ringan

*

Defisit cairan 5% dari berat badan
*

Penderita merasa haus
*

Denyut nadi lebih dari 90x/menit

Dehidrasi sedang

*

Defisit cairan antara 5-10% dari berat badan
*

Nadi lebih dari 90x/menit
*

Nadi lemah
*

Sangat haus

Dehidrasi berat

*

Defisit cairan lebih dari 10% dari berat badan
*

Hipotensi
*

Mata cekung
*

Nadi sangat lemah, sampai tak terasa
*

Kejang-kejang

Penanganan

*
1.

Mengganti cairan yang hilang dan mengatasi shock
2.

mengganti elektrolit yang lemah
3.

Mengenal dan mengatasi komplikasi yang ada
4.

Memberantas penyebabnya
5.

Rutinlah minum jangan tunggu haus

c. Asma yaitu penyempitan/gangguan saluran pernafasan.

Gejala

*

Sukar bicara tanpa berhenti, untuk menarik nafas
*

Terdengar suara nafas tambahan
*

Otot Bantu nafas terlihat menonjol (dileher)
*

Irama nafas tidak teratur
*

Terjadinya perubahan warna kulit (merah/pucat/kebiruan/sianosis)
*

Kesadaran menurun (gelisah/meracau)

Penanganan

1.

Tenangkan korban
2.

Bawa ketempat yang luas dan sejuk
3.

Posisikan ½ duduk
4.

Atur nafas
5.

Beri oksigen (bantu) bila diperlukan

d. Pusing/Vertigo/Nyeri Kepala yaitu sakit kepala yang disebabkan oleh kelelahan, kelaparan, gangguan kesehatan dll.

Gejala

*

Kepala terasa nyeri/berdenyut
*

Kehilangan keseimbangan tubuh
*

Lemas

Penanganan

1.

Istirahatkan korban
2.

Beri minuman hangat
3.

beri obat bila perlu
4.

Tangani sesuai penyebab

e. Maag/Mual yaitu gangguan lambung/saluran pencernaan.

Gejala

*

Perut terasa nyeri/mual
*

Berkeringat dingin
*

Lemas

Penanganan

1.

Istirahatkan korban dalam posisi duduk ataupun berbaring sesuai kondisi korban
2.

Beri minuman hangat (teh/kopi)
3.

Jangan beri makan terlalu cepat

f. Lemah jantung yaitu nyeri jantung yang disebabkan oleh sirkulasi darah kejantung terganggu atau terdapat kerusakan pada jantung.

Gejala

*

Nyeri di dada
*

Penderita memegangi dada sebelah kiri bawah dan sedikit membungkuk
*

Kadang sampai tidak merespon terhadap suara
*

Denyut nadi tak teraba/lemah
*

Gangguan nafas
*

Mual, muntah, perasaan tidak enak di lambung
*

Kepala terasa ringan
*

Lemas
*

Kulit berubah pucat/kebiruan
*

Keringat berlebihan

Tidak semua nyeri pada dada adalah sakit jantung. Hal itu bisa terjadi karena gangguan pencernaan, stress, tegang.

Penanganan

1.

Tenangkan korban
2.

Istirahatkan
3.

Posisi ½ duduk
4.

Buka jalan pernafasan dan atur nafas
5.

Longgarkan pakaian dan barang barang yang mengikat pada badan
6.

Jangan beri makan/minum terlebih dahulu
7.

Jangan biarkan korban sendirian (harus ada orang lain didekatnya)

f. Histeria yaitu sikap berlebih-lebihan yang dibuat-buat (berteriak, berguling-guling) oleh korban; secara kejiwaan mencari perhatian.

Gejala

*

Seolah-olah hilang kesadaran
*

Sikapnya berlebihan (meraung-raung, berguling-guling di tanah)
*

Tidak dapat bergerak/berjalan tanpa sebab yang jelas

Penanganan

1.

Tenangkan korban
2.

Pisahkan dari keramaian
3.

Letakkan di tempat yang tenang
4.

Awasi

g. Mimisan yaitu pecahnya pembuluh darah di dalam lubang hidung karena suhu ekstrim (terlalu panas/terlalu dingin)/kelelahan/benturan.

Gejala

*

Dari lubang hidung keluar darah dan terasa nyeri
*

Korban sulit bernafas dengan hidung karena lubang hidung tersumbat oleh darah
*

Kadang disertai pusing

Penanganan

1.

Bawa korban ke tempat sejuk/nyaman
2.

Tenangkan korban
3.

Korban diminta menunduk sambil menekan cuping hidung
4.

Diminta bernafas lewat mulut
5.

Bersihkan hidung luar dari darah
6.

Buka setiap 5/10 menit. Jika masih keluar ulangi tindakan Pertolongan Pertama

h. Kram yaitu otot yang mengejang/kontraksi berlebihan.

Gejala

*

Nyeri pada otot
*

Kadang disertai bengkak

Penanganan

1.

Istirahatkan
2.

Posisi nyaman
3.

Relaksasi
4.

Pijat berlawanan arah dengan kontraksi

i. Memar yaitu pendarahan yang terdi di lapisan bawah kulit akibat dari benturan keras.

Gejala

*

Warna kebiruan/merah pada kulit
*

Nyeri jika di tekan
*

Kadang disertai bengkak

Penanganan

1.

Kompres dingin
2.

Balut tekan
3.

Tinggikan bagian luka

J. Keseleo yaitu pergeseran yang terjadi pada persendian biasanya disertai kram.

Gejala

*

Bengkak
*

Nyeri bila tekan
*

Kebiruan/merah pada derah luka
*

Sendi terkunci
*

Ada perubahan bentuk pada sendi

Penanganan

1.

Korban diposisikan nyaman
2.

Kompres es/dingin
3.

Balut tekan dengan ikatan 8 untuk mengurangi pergerakan
4.

Tinggikan bagian tubuh yang luka

k. Luka yaitu suatu keadaan terputusnya kontinuitas jaringan secara tiba-tiba karena kekerasan/injury.

Gejala

*

Terbukanya kulit
*

Pendarahan
*

Rasa nyeri

Penanganan

1.

Bersihkan luka dengan antiseptic (alcohol/boorwater)
2.

Tutup luka dengan kasa steril/plester
3.

Balut tekan (jika pendarahannya besar)
4.

Jika hanya lecet, biarkan terbuka untuk proses pengeringan luka

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menangani luka:

1.

Ketika memeriksa luka: adakah benda asing, bila ada:
*

Keluarkan tanpa menyinggung luka
*

Kasa/balut steril (jangan dengan kapas atau kain berbulu)
*

Evakuasi korban ke pusat kesehatan
2.

Bekuan darah: bila sudah ada bekuan darah pada suatu luka ini berarti luka mulai menutup. Bekuan tidak boleh dibuang, jika luka akan berdarah lagi.

l. Pendarahan yaitu keluarnya darah dari saluran darah kapan saja, dimana saja, dan waktu apa saja. Penghentian darah dengan cara

1.

Tenaga/mekanik, misal menekan, mengikat, menjahit dll

1.

Fisika:

*

Bila dikompres dingin akan mengecil dan mengurangi pendarahan
*

Bila dengan panas akan terjadinya penjedalan dan mengurangi

1.

Kimia: Obat-obatan
2.

Biokimia: vitamin K
3.

Elektrik: diahermik

m. Patah Tulang/fraktur yaitu rusaknya jaringan tulang, secara keseluruhan maupun sebagian

Gejala

*

Perubahan bentuk
*

Nyeri bila ditekan dan kaku
*

Bengkak
*

Terdengar/terasa (korban) derikan tulang yang retak/patah
*

Ada memar (jika tertutup)
*

Terjadi pendarahan (jika terbuka)

Jenisnya

*

Terbuka (terlihat jaringan luka)
*

Tertutup

Penanganan

1.

Tenangkan korban jika sadar

Untuk patah tulang tertutup

1.
1.

Periksa Gerakan (apakah bagian tubuh yang luka bias digerakan/diangkat)

Sensasi (respon nyeri)

Sirkulasi (peredaran darah)

1.
1.

Ukur bidai disisi yang sehat
2.

Pasang kain pengikat bidai melalui sela-sela tubuh bawah
3.

Pasang bantalan didaerah patah tulang
4.

Pasang bidai meliputi 2 sendi disamping luka
5.

Ikat bidai
6.

Periksa GSS

Untuk patah tulang terbuka

1.Buat pembalut cincin untuk menstabilkan posisi tulang yang mencuat

2.Tutup tulang dengan kasa steril, plastik, pembalut cincin

3.Ikat dengan ikatan V

4.Untuk selanjutnya ditangani seperti pada patah tulang tertutup

*
1.

Tujuan Pembidaian

1.
1.
1.

Mencegah pergeseran tulang yang patah
2.

memberikan istirahat pada anggota badan yang patah
3.

mengurangi rasa sakit
4.

Mempercepat penyembuhan

n. Luka Bakar yaitu luka yangterjadi akibat sentuhan tubuh dengan benda-benda yang menghasilkan panas (api, air panas, listrik, atau zat-zat yang bersifat membakar)

Penanganan

1.

Matikan api dengan memutuskan suplai oksigen
2.

Perhatikan keadaan umum penderita
3.

Pendinginan

*

Membuka pakaian penderita/korban
*

Merendam dalam air atau air mengalir selama 20 atau 30 menit. Untuk daerah wajah, cukup dikompres air

1.

Mencegah infeksi
*

Luka ditutup dengan perban atau kain bersih kering yang tak dapat melekat pada luka
*

Penderita dikerudungi kain putih
*

Luka jangan diberi zat yang tak larut dalam air seperti mentega, kecap dll
2.

Pemberian sedative/morfin 10 mg im diberikan dalam 24 jam sampai 48 jam pertama
3.

Bila luka bakar luas penderita diKuasakan
4.

Transportasi kefasilitasan yang lebih lengkap sebaiknya dilakukan dalam satu jam bila tidak memungkinkan masih bisa dilakukan dalam 24-48 jam pertama dengan pengawasan ketat selama perjalanan.
5.

Khusus untuk luka bakar daerah wajah, posisi kepala harus lebih tinggi dari tubuh.

o. Hipotermia yaitu suhu tubuh menurun karena lingkungan yang dingin

Gejala

*

Menggigil/gemetar
*

Perasaan melayang
*

Nafas cepat, nadi lambat
*

Pandangan terganggu
*

Reaksi manik mata terhadap rangsangan cahaya lambat

Penanganan

1.

Bawa korban ketempat hangat
2.

Jaga jalan nafas tetap lancar
3.

Beri minuman hangat dan selimut
4.

Jaga agar tetap sadar
5.

Setelah keluar dari ruangan, diminta banyak bergerak (jika masih kedinginan)

p. Keracunan makanan atau minuman

Gejala

*

Mual, muntah
*

Keringat dingin
*

Wajah pucat/kebiruan

Penanganan

1.

Bawa ke tempat teduh dan segar
2.

Korban diminta muntah
3.

Diberi norit
4.

Istirahatkan
5.

Jangan diberi air minum sampai kondisinya lebih baik

q. Gigitan binatang gigitan binatang dan sengatan, biasanya merupakan alat dari binatang tersebut untuk mempertahankan diri dari lingkungan atau sesuatu yang mengancam keselamatan jiwanya. Gigitan binatang terbagi menjadi dua jenis; yang berbisa (beracun) dan yang tidak memiliki bisa. Pada umumnya resiko infeksi pada gigitan binatang lebih besar daripada luka biasa.

Pertolongan Pertamanya adalah:

*

Cucilah bagian yang tergigit dengan air hangat dengan sedikit antiseptik
*

Bila pendarahan, segera dirawat dan kemudian dibalut

Ada beberapa jenis binatang yang sering menimbulkan ganguan saat melakukan kegiatan di alam terbuka, diantaranya:

1. Gigitan Ular

Tidak semua ular berbisa, akan tetapi hidup penderita/korban tergantung pada ketepatan diagnosa, maka pad keadaan yang meragukan ambillah sikap menganggap ular tersebut berbisa. Sifat bisa/racun ular terbagi menjadi 3, yaitu:

*
1.

Hematotoksin (keracunan dalam)
2.

Neurotoksin (bisa/racun menyerang sistem saraf)
3.

Histaminik (bisa menyebabkan alergi pada korban)

Nyeri yang sangat dan pembengkakan dapat timbul pada gigitan, penderita dapat pingsan, sukar bernafas dan mungkin disertai muntah. Sikap penolong yaitu menenangkan penderita adalah sangat penting karena rata-rata penderita biasanya takut mati.

Penanganan untuk Pertolongan Pertama:

1.

Telentangkan atau baringkan penderita dengan bagian yang tergigit lebih rendah dari jantung.
2.

Tenangkan penderita, agar penjalaran bisa ular tidak semakin cepat
3.

Cegah penyebaran bias penderita dari daerah gigitan
*

Torniquet di bagian proximal daerah gigitan pembengkakan untuk membendung sebagian aliran limfa dan vena, tetapi tidak menghalangi aliran arteri. Torniquet / toniket dikendorkan setiap 15 menit selama + 30 detik
*

Letakkan daerah gigitan dari tubuh
*

Berikan kompres es
*

Usahakan penderita setenang mungkin bila perlu diberikan petidine 50 mg/im untuk menghilangkan rasa nyeri
4.

Perawatan luka
*

Hindari kontak luka dengan larutan asam Kmn 04, yodium atau benda panas
*

Zat anestetik disuntikkan sekitar luka jangan kedalam lukanya, bila perlu pengeluaran ini dibantu dengan pengisapan melalui breastpump sprit atau dengan isapan mulut sebab bisa ular tidak berbahaya bila ditelan (selama tidak ada luka di mulut).
5.

Bila memungkinkan, berikan suntikan anti bisa (antifenin)
6.

Perbaikan sirkulasi darah
*

Kopi pahit pekat
*

Kafein nabenzoat 0,5 gr im/iv
*

Bila perlu diberikan pula vasakonstriktor
7.

Obat-obatan lain
*

Ats
*

Toksoid tetanus 1 ml
*

Antibiotic misalnya: PS 4:1

2. Gigitan Lipan

Ciri-ciri

1.

Ada sepasang luka bekas gigitan
2.

Sekitar luka bengkak, rasa terbakar, pegal dan sakit biasanya hilang dengan sendirinya setelah 4-5 jam

Penanganan

1.

Kompres dengan yang dingin dan cuci dengan obat antiseptik
2.

Beri obat pelawan rasa sakit, bila gelisah bawa ke paramedik

3. Gigitan Lintah dan Pacet

Ciri-ciri

1.

Pembengkakan, gatal dan kemerah-merahan (lintah)

Penanganan

1.

Lepaskan lintah/pacet dengan bantuan air tembakau/air garam
2.

Bila ada tanda-tanda reaksi kepekaan, gosok dengan obat atau salep anti gatal

4. Sengatan Lebah/Tawon dan Hewan Penyengat lainnya

Biasanya sengatan ini kurang berbahaya walaupun bengkak, memerah, dan gatal. Namun beberapa sengatan pada waktu yang sama dapat memasukkan racun dalam tubuh korban yang sangat menyakiti.

Perhatian:

*

Dalam hal sengatan lebah, pertama cabutlah sengat-sengat itu tapi jangan menggunakan kuku atau pinset, Anda justru akan lebih banyak memasukkan racun kedalam tubuh. Cobalah mengorek sengat itu dengan mata pisau bersih atau dengan mendorongnya ke arah samping
*

Balutlah bagian yang tersengat dan basahi dengan larutan garam inggris.

V. EVAKUASI KORBAN

Adalah salah satu tahapan dalam Pertolongan Pertama yaitu untuk memindahkan korban ke lingkungan yng aman dan nyaman untuk mendapatkan pertolongan medis lebih lanjut.

Prinsip Evakuasi

1.
1.

Dilakukan jika mutlak perlu
2.

Menggunakan teknik yang baik dan benar
3.

Penolong harus memiliki kondisi fisik yang prima dan terlatih serta memiliki semangat untuk menyelamatkan korban dari bahaya yang lebih besar atau bahkan kematian

Alat Pengangutan

Dalam melaksanakan proses evakusi korban ada beberapa cara atau alat bantu, namun hal tersebut sangat tergantung pada kondisi yang dihadapi (medan, kondisi korban ketersediaan alat). Ada dua macam alat pengangkutan, yaitu:

1. Manusia

Manusia sebagai pengangkutnya langsung. Peranan dan jumlah pengangkut mempengaruhi cara angkut yang dilaksanakan.

Bila satu orang maka penderita dapat:

*

Dipondong : untuk korban ringan dan anak-anak
*

Digendong : untuk korban sadar dan tidak terlalu berat serta tidak patah tulang
*

Dipapah : untuk korban tanpa luka di bahu atas
*

Dipanggul/digendong
*

Merayap posisi miring

Bila dua orang maka penderita dapat:

Maka pengangkutnya tergantung cidera penderita tersebut dan diterapkan bila korban tak perlu diangkut berbaring dan tidak boleh untuk mengangkut korban patah tulang leher atau tulang punggung.

*

Dipondong : tangan lepas dan tangan berpegangan
*

Model membawa balok
*

Model membawa kereta

2. Alat bantu

*

Tandu permanen
*

Tandu darurat
*

Kain keras/ponco/jaket lengan panjang
*

Tali/webbing

Persiapan

Yang perlu diperhatikan:

1. Kondisi korban memungkinkan untuk dipindah atau tidak berdasarkan penilaian kondisi dari: keadaan respirasi, pendarahan, luka, patah tulang dan gangguan persendian

2. Menyiapkan personil untuk pengawasan pasien selama proses evakuasi

3. Menentukan lintasan evakusi serta tahu arah dan tempat akhir korban diangkut

4. Memilih alat

5. Selama pengangkutan jangan ada bagian tuhuh yang berjuntai atau badan penderita yang tidak daolam posisi benar

VI. FARMAKOLOGI

Farmakologi adalah pengetahuan mengenai obat-obatan. Yang dibahas disini hanya sekedar obat-obatan standar yang sering dibutuhkan dalam Kegiatan Alam Terbuka.

NO


Nama Obat


Kegunaan

1
CTM Alergi, obat tidur

2
Betadine Antiseptik

3
Povidone Iodine Antiseptik

4
Neo Napacyne Asma, sesak nafas

5
Asma soho Asma,sesak nafas

6
Konidin Batuk

7
Oralit Dehidrasi

8
Entrostop Diare

9
Demacolin Flu, batuk

10
Norit Keracunan

11
Antasida doen Maag

12
Gestamag Maag

13
Kina Malaria

14
Oxycan Memberi tambahan oksigen murni

15
Damaben Mual

16
Feminax Nyeri haid

17
Spasmal Nyeri haid

18
Counterpain Pegal linu

19
Alkohol 70% Pembersih luka/antiseptic

20
Rivanol Pembersih luka/antiseptic

21
Chloroetil (obat semprot luar) Pengurang rasa sakit

22
Pendix Pengurang rasa sakit

23
Antalgin Pengurang rasa sakit, pusing

24
Paracetamol Penurun panas

25
Papaverin Sakit perut

26
Vitamin C Sariawan

27
Dexametason Sesak nafas


Pertolongan Pertama adalah sebagai suatu tindakan antisipatif dalam keadaan darurat namun memiliki dampak yang sangat besar bagi penderita atau korban. Kesalahan diagnosa dan penanganan dapat mendatangkan bahaya yang lebih besar, cacat bahkan kematian. Satu hal yang perlu diingat adalah Pertolongan Pertama merupakan tindakan pertolongan yang diberikan terhadap korban dengan tujuan mencegah keadaan bertambah buruk sebelum si korban mendapatkan perawatan dari tenaga medis resmi. Jadi tindakan Pertolongan Pertama (PP) ini bukanlah tindakan pengobatan sesungguhnya dari suatu diagnosa penyakit agar si penderita sembuh dari penyakit yang dialami. Serahkan penanganan selanjutnya (bila diperlukan) pada dokter atau tenaga medis yang berkompeten.


Salah satu keluhan yang berhubungan dengan pernapasan yang sering ditemui adalah sesak napas. Gejala ini terjadi pada hampir semua penyakit atau gangguan saluran napas dan paru-paru, mulai dari batuk pilek biasa sampai penyakit paru-paru akut yang dapat berakibat fatal. Sebagai penolong pertama tidak mungkin untuk mengenali penyebab sesak napas dengan tepat, mengingat hal inipun cukup sulit bagi seorang dokter di rumah sakit.

Banyak faktor yang dapat menjadi penyulit pada keadaan sesak napas termasuk keadaan yang mengancam nyawa seperti gagal jantung.
Seperti pada semua kasus kedaruratan medis kemampuan penolong untuk melakukan wawancara dan pemeriksaan akan banyak membantu penderita.
Gangguan pernapasan menyebabkan terganggunya proses masuknya oksigen dalam tubuh. Kasus medis yang terjadi pada saluran napas memiliki gejala dan tanda umum yang sama. Irama pernapasan menjadi cepat disertai upaya bernapas, napas terasa pendek dan udara terasa kurang. Kekurangan oksigen ini dapat menyebabkan timbulnya warna kebiruan pada kulit dan selaput lendir (sianosis).
Beberapa contoh gangguan pernapasan:

* Infeksi saluran napas atas dan bawah.
* Edema paru akut.
* Penyakit paru obstruktif menahun.
* Pneumotoraks spontan (udara dalam paru-paru karena kebocoran paru-­paru).
* Asma atau alergi.
* Sumbatan jalan napas.
* Emboli paru.
* Hiperventilasi.

Penyakit tersebut di atas sangat sulit dikenali dan memerlukan diagnosis medis.
Contoh di atas hanya untuk membantu penolong dalam melakukan wawancara untuk mencari riwayat penyakitnya.
Gejala dan tanda

* Sukar untuk menyelesaikan suatu kalimat tanpa berhenti untuk menarik napas.
* Suara napas tambahan.
* Tampak kerja otot bantu napas.
* Posisi tripod (segi tiga kokoh), tubuh condong ke depan, tegak, kedua tangan bertumpu pada lutut.
* Irama dan kualitas pernapasan tidak normal.
* Perubahan warna kulit (pucat, kemerahan atau sianosis).
* Perubahan status mental (mengacau, gelisah) dan lain-lain.
* Pada asma biasanya khas yaitu adanya bunyi mengi pada saat penderita mengeluarkan napas dan batuk yang riaknya terkesan sukar keluar.
* Nadi cepat.
* Di Indonesia masih banyak ditemukan kasus tuberkulosa, penderita ini biasanya batuk darah.
* Bila disertai demam maka penyebabnya biasanya adalah radang paru-paru.

Penatalaksanaan Pertolongan Pertama

1. Nilai pernapasan penderita apakan sudah mencukupi, berikan bantuan napas bila perlu.
2. Jaga agar jalan napas selalu terbuka.
3. Letakan penderita pada posisi yang paling nyaman biasanya duduk tegak.
4. Bila ada berikan oksigen sesuai ketentuan.
5. Tenangkan penderita. Akibat kurangnya udara penderita merasa sangat tidak nyaman dan ketakutan, jangan menganggap kasar perlakuannya.
6. Bawa penderita segera ke RS/dokter/Puskesmas terdekat.

Gangguan Sistem Pernapasan

Alat-alat pernapasan merupakan organ tubuh yang sangat penting. Jika alat ini terganggu karena penyakit atau kelainan maka proses pernapasan akan terganggu, bahkan dapat menyebabkan kematian.
Berikut akan diuraikan beberapa macam gangguan yang umum terjadi pada saluran pernapasan manusia.

1. Influenza (flu), penyakit yang disebabkan oleh virus influenza. Gejala yang ditimbulkan antara lain pilek, hidung tersumbat, bersin-bersin, dan tenggorokan terasa gatal.

2. Asma atau sesak napas, merupakan suatu penyakit penyumbatan saluran pernapasan yang disebabkan alergi terhadap rambut, bulu, debu, atau tekanan psikologis. Asma bersifat menurun.

3. Tuberkulosis (TBC), penyakit paru-paru yang diakibatkan serangan bakteri mycobacterium tuberculosis. Difusi oksigen akan terganggu karena adanya bintil-bintil atau peradangan pada dinding alveolus. Jika bagian paru-paru yang diserang meluas, sel-selnya mati dan paru-paru mengecil. Akibatnya napas penderita terengah-engah.

4. Macam-macam peradangan pada sistem pernapasan manusia:

a. Rinitis, radang pada rongga hidung akibat infeksi oleh virus, missal virus influenza. Rinitis juga dapat terjadi karena reaksi alergi terhadap perubahan cuaca, serbuk sari, dan debu. Produksi lendir meningkat.
b. Faringitis, radang pada faring akibat infeksi oleh bakteri Streptococcus. Tenggorokan sakit dan tampak berwarna merah. Penderita hendaknya istirahat dan diberi antibiotik.
c. Laringitis, radng pada laring. Penderita serak atau kehilangan suara. Penyebabnya antara lain karena infeksi, terlalu banyak merokok, minum alkohol, dan terlalu banyak serak.
d. Bronkitis, radang pada cabang tenggorokan akibat infeksi. Penderita mengalami demam dan banyak menghasilkan lendir yang menyumbat batang tenggorokan.
e. Sinusitis, radang pada sinus. Sinus letaknya di daerah pipi kanan dan kiri batang hidung. Biasanya di dalam sinus terkumpul nanah yang harus dibuang melalui operasi.

5. Asfikasi, adalah gangguan pernapasan pada waktu pengangkutan dan penggunaan oksigen yang disebabkan oleh: tenggelam (akibat alveolus terisi air), pneumonia (akibatnya alveolus terisi cairan lendir dan cairan limfa), keracunan CO dan HCN, atau gangguan sitem sitokrom (enzim pernapasan).

6. Asidosis, adalah kenaikan adalah kenaikan kadar asam karbonat dan asam bikarbonat dalam darah, sehingga pernapasan terganggu.

7. Difteri, adalah penyumbatanpada rongga faring atau laring oloeh lendir yang dihasilkan kuman difteri.

8. Emfisema, adalah penyakit pembengkakan karena pembuluh darahnya kemasukan udara.

9. Pneumonia, adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus atau bakteri pada alveolus yang menyebabkan terjadinya radang paru-paru.

10. Wajah adenoid (kesan wajah bodoh), disebabkan adanya penyempitan saluran napas karena pembengkakan kelenjar limfa atau polip, pembengkakan di tekak atau amandel.

11. Kanker paru-paru, mempengaruhi pertukaran gas di paru-paru. Kanker paru-paru dapat menjalar ke seluruh tubuh. Kanker paru-paru sangat berhubungan dengan aktivitas yang sering merokok. Perokok pasif juga dapat menderita kanker paru-paru. Penyebab lainnya yang dapat menimbulkan kanker paru-paru adalah penderita menghirup debu asbes, radiasi ionasi, produk petroleum, dan kromium.

Pengaruh Rokok Terhadap Kesehatan

A. Kandungan Asap Rokok

Asap rokok yang dihirup seorang perokok mengandung komponen gas dan partikel.komponen gas terdiri dari karbon monoksida, karbon dioksida, hydrogen sianida, amoniak, oksida dari nitrogen, dan senyawa hidrokarbon. Adapun komponen partikel terdiri dari tar, nikotin, benzopiren, fenol, dan kadmium.
Asap yang dihembuskan para perokok dapat di bagi atas asap utama dan asap samping. Asap utama merupakan asap tembakau yang dihirup langsung oleh perokok, sedangkan asap samping merupakan asap tembakau yang disebarkan ke udara bebas, yang akan dihirup oleh orang lain atau perokok pasif. Terdapat 4000 jenis bahan kimia dalam rokok, dan 40 jenis di antaranya bersifat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker), dimana bahan racun ini lebih banyak didapatkan pada asap samping. Misalnya karbon monoksida, 5 kali lipat lebih banyak ditemukan pada asap samping daripada asap utama , benzopiren 3 kali, dan ammonia 50 kali. Bahan bahan ini dapat bertahan di ruangan berjam jam lamanya.

B. Penyakit Akibat Merokok

Merokok dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi saluran pernapasan dan jaringan paru-paru.
Akibat perubahan anatomi saluran pernapasan tersebut, pada perokok akan timbul perubahan fungsi paru-paru. Merokok juga merupakan penyebab timbulnya penyakit obstruksi paru menahun, termasuk emfisema (pembengkakan paru-paru), bronkitis kronis. Dan asma.
Merokok menjadi pemicu utama penyebab penyakit kanker paru-paru. Hubungan tersebut telah diteliti dan akhirnya secara tegas memang bahwa rokok sebagai penyebab utama kanker paru-paru. Dibandingkan dengan bukan seorang perokok, kemungkinan timbulnya kenker paru-paru pada perokok mencapai 10-30 kali lipat.
Gangguan yang ditimbulkan akibat merokok antara lain sebagai berikut.

1. Jantung Koroner

Merokok menjadi faktor utama penyebab penyakit pembuluh darah jantung koroner. Merokok juga berakibat buruk bagi pembuluh darah otak dan pembuluh darah perifer.

2. Stroke

Penyumbatan pembuluh darah otak yang bersifat mendadak sehingga pecah banyak dikaitkan dengan kegiatan merokok. Risiko stroke dan risiko kematian lebih tinggi pada perokok dibandingkan bukan perokok

3. Memudahkan Terjangkit AIDS

Dalam penelitian yang banyak dilakukan di amerika serikat dan inggris, didapatkan kebiasaan merokok memperbesar kemungkinan timbulnya AIDS pada pengidap HIV. Pada kelompok perokok, AIDS timbul rata-rata dalam 8,17 bulan, sedangkan pada kelompok bukan perokok timbul setelah 14,5 bulan. Ternyata merokok menurunkan kekebalan tubuh sehingga lebih mudah terkena AIDS.

4. Gangguan Fisiologis

Nikotin menyebabkan ketagihan. Selain itu, nikotin juga merangsang pelepasan andrenalin, meningkatan frekuensi jantung, tekanan darah, dan kebutuhan oksigen jantung. Nikotin juga mengganggu kerja saraf, otak, dan banyak bagian tubuh lainnya. Nikotin juga dapat mengaktifkan trombositsehingga terjadi adhesi (penempelan) trombosit ke dalam pembuluh darah.

Karbon monoksida melarutkan hemoglobin, sehingga persediaan opksigen untuk jaringan tubuh menurun. CO menggantikan tempat oksigen di hemoglobin, mengganggu pelepasan oksigen, dan mempercepat aterosklerosis (pengapuran/penebalan dinding pembuluh darah). CO membuat darah mengental dan mudah menggumpal

SISTEM PEREDARAN DARAH

sistem peredaran darah manusia terdiri atas darah,pembulu darah,serta jantung. darah manusia terdiri dari plasma darahdan sel-sel darah,yaitu sel darah merah(eritrosit),sel darah putih(leukosit),dan keping darah (trombosit).di dalam sel darah merah terdapat pigmen protein pengikat oksigen dan karbon dioksida,yaitu hemoglobin.sel darah putih terdiri dari leokosit granulosit(netrofil,eosinofil,basofil) dan leokosit agranulosit(monosit,limfosit).trombosit berfungsi membekukan darah.di dalam sorum terdapat zat anti body(kekebalan).
pembulu darah meliputi pembulu nadi dan pembulu balik.peredaran darah manusia tergolong peredaran darah tertutup dan ganda.jantung sebagai alat pompa sekaligus alat isap,memiliki 4 ruang yang sempurna,pada sekat antara serambi kanan dan bilik kanan terdapat valvula trikuspidalis,sedangkan antara serambi kiri dan bilik kiri terdapat valvula bikuspidalis(kantup mitral).keadaan jantung saat mengempis(kontraksi) di sebut sistol dan saat mengendur(relaksi) di sebut diastol.
darah manusia digolongkan menjadi golongan a,b,o,dan ab.selain itu darah digolongkan berdasarkan faktor resus.

KELAINAN DAN GANGGUAN PADA SISTEM PEREDARAN DARAH

kelainan dan gangguan pada sistem peredaran darah dapat ditimbulkan karena pewarisan sifat .rusaknya alat peredaran darah akibat kecelakaan atou akibat mnakanan yang dikosumsi banyak mengandung lemak dan zat kaour.zak makanan tersebut dapat mengakibatkan penyumbatan pembnulu darah atou berkurangnya elastisitas otot jantung dalam mekanisme pompa dan isap.
kelainan atou gangguan pada sistem peredaran darah antara lain :
1.anemia (kurang darah) dikarenakan kurangnya kadar hb atou kurangnya jumblah eritrosit dalam darah.
2.vapises adalah pelebaran pembulu darah di betis
3.hemoroid(ambeen) adalah pelebaran pembulu darah di sekitar dubur
4.arteriosklerosis adalah pergeseran pembulu nadi atas timbunan atou endapan kapur
5.leokimia (kanker darah) ialah bertambahnya leokosit secara tak tekendali.

GANGGUAN KESADARAN & SINKOP (PINGSAN)

Kesadaran adalah pengetahuan penuh atas diri, lokasi dan waktu. Kesadaran secara sederhana dapat dikatakan sebagai keadaan dimana seseorang mengenal atau mengetahui tentang dirinya maupun lingkungannya.
Penurunan kesadaran adalah keadaan dimana penderita tidak sadar dalam arti tidak terjaga atau tidak terbangun secara utuh sehingga tidak mampu memberikan respons yang normal terhadap stimulus.1,2 Sistem aktivitas retikuler berfungsi mempertahankan kesadaran. Sistem ini terletak di bagian atas batang otak, terutama di mesensefalon dan hipothalamus. Lesi di otak, yang terletak di atas hipothalamus tidak akan menyebabkan penurunan kesadaran, kecuali bila lesinya luas dan bilateral. Lesi fokal di cerebrum, misalnya oleh tumor atau stroke, tidak akan menyebabkan coma, kecuali bila letaknya dalam dan mengganggu hipothalamus. Dalam memeriksa tingkat kesadaran, seorang dokter melakukan inspeksi, konversasi dan bila perlu memberikan rangsang nyeri.2
1. Inspeksi, memperhatikan apakah pasien berespon secara wajar terhdapa stimulus visual, auditoar, dan taktil yang ada disekitarnya
2. Konversasi, memperhatikan apakah pasien memberi reaksi wajar terhadap suara konversasi, atau dapat dibangunkan dengan suruhan atau pertanyaan yang disampaikan dnegan suara yang kuat
3. Nyeri.
Dalam menilai penurunan kesadaran dikenal beberapa istilah yaitu:2
1. Kompos mentis
2. Somnelen / drowsiness / clouding of consciousness
3. Stupor / Sopor
4. Soporokoma / Semikoma
5. Koma

Sinkop
Terminologi sinkop berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari kata “syn” dan “koptein” yang berarti memutuskan.3 Secara medis, definisi dari sinkop adalah kehilangan kesadaran dan kekuatan postural tubuh serta kemampuan untuk berdiri karena pengurangan aliran darah ke otak.4 Prognosis dari sinkop sangat bervariasi bergantung dari diagnosis dan etiologinya. Individu yang mengalami sinkop termasuk sinkop yang tidak diketahui penyebabnya memiliki tingkat mortalitas yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidak pernah sinkop.3

ANS (sistem saraf autonom) secara otomatis mengontrol banyak fungsi tubuh, seperti pernapasan, tekanan darah, denyut jantung, dan kandung kemih. Ada berbagai macam penyebab syncope salah satunya jika darah tidak bersirkulasi dengan seharusnya, atau sistem saraf otonom tidak bekerja sebagaimana mestinya. Penyebab sinkop dapat diklasifikasikan dalam enam kelompok yaitu vaskular, kardiak, neurologik-serebrovaskular, psikogenik, metabolik dan sinkop yang tidak diketahui penyebabnya. Kelompok vaskular merupakan penyebab sinkop terbanyak kemudian diikuti oleh kelompok kardiak.3

Patofisiologi dari sinkop terdiri dari tiga tipe:5
1. penurunan output jantung sekunder pada penyakit jantung intrinsik atau terjadi penurunan klinis volume darah yang signifikan;
2. penurunan resistensi pembuluh darah perifer dan atau venous return
3. penyakit serebrovaskular klinis signifikan yang mengarahkan pada penurunan perfusi serebral. Terlepas dari penyebabnya, semua kategori ini berbagi faktor umum, yaitu, gangguan oksigenasi otak yang memadai mengakibatkan perubahan sementara kesadaran.

Penyebab Vaskular (Kelainan Tonus Vascular atau Volume Darah)
Hipotensi Orthostatik3
Definisi Hipotensi Orthostatik adalah apabila terjadi penurunan tekanan darah sistolik 20mmHg atau tekanna darah diastolik 10 mmHg pada posisi berdiri selama 3 menit. Pada saat seseorang dalam posisi berdiri sejumlah darah 500-800 ml darah akan berpindah ke abdomen dan eksremitas bawah sehingga terjadi penurunan besar volume darah balik vena secara tiba-tiba ke jantung. Penurunan ini mencetuskan peningkatan refleks simpatis. Kondisi ini dapat asimptomatik tetapi dapat pula menimbulkan gejala seperti kepala terasa ringan, pusing, gangguan penglihatan, lemah, berbedebar-debar, hingga sinkop. Sinkop yang terjadi setelah makan terutama pada usia lanjut disebabkan oleh retribusi darah ke usus.
Penyebab lain hipotensi orthostatik adalah obat-obatan yang menyebabkan deplesi volume atau vasodilatasi. Obat-obat yang sering menyebabkan hipotensi orthostatik adalah:
• diuretika
• penghambat adrenergik alfa: terazosin
• Penghambat saraf adrenergik: guanetidin
• Penghambat ACE
• Antidepresan: MAO Inhibitor
• Alkohol
• Penghambat ganglion
• Vasodilator
• Obat-obatan hipotensif yang bekerja sentral: metildopa, clonidin

Sinkop Hipersensitivitas Sinus Carotid4,6
Sinkop karena hipersensitivitas dari sinus karotid diinduksi oleh tekanan pada baroreseptor di sinus karotis. Umumnya terjadi pada tight collar atau membelokan kepala ke satu sisi. Hal ini umum terjadi pada pria dengan usia lebih dari 50 tahun. Aktivasi dari baroreseptor sinus karotis meningkatan impuls yang dibawa ke badan Hering menuju medulla oblongata. Impuls afferen ini mengaktivkan saraf simpatik efferen ke jantung dan pembuluh darah. Hal ini menyebabkan sinus arrest atau Atrioventricular block, vasodilatasi.

Penyebab Sinkop Neurogenik
Terminologi ini merupakan bentuk dari seluruh sinkop yang berasal dari sinyal saraf SSP yang berefek pada vaskular, khususnya pada Nucleus Tractus Solitarius (NTS). Sejumlah stimulus, yang terbanyak bersala dari viseral, dapat menghilangkan respon yang berakibat pengurangan atau hilang tonus simpatis dan diikuti dengan peningkatan aktivitas vagal. NTS pada medula mengintegrasikan stimulus afferen dan sinyal baroreceptor dengan simpatis efferen yang mempertahankan tonus vaskular. Beberapa studi mengatakan terdapat gangguan pada pengaturan kontrol simpatis dan juga sinyal baroreceptor.4,6

Sinkop Vasodepressor4
Sinkop jenis ini adalah hal yang umum terjadi. Predisposisi secara familial belum dapat dibuktikan. Faktor yang mendukung terjadinya sinkop umumnya emosi yang berlebihan, luka fisik (khususnya viseral). Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, vasodilatasi dari persarafan adrenergik dipostulasikan terhadap berkurangnya resistensi perifer dimana cardiac output gagal untuk mengkompensasi seperti yang terjadi pada hipotensi. Stimulasi vagal kemudian terjadi dan menyebabkan bradikardia yang memicu kemungkinan untuk penurunan kembali tekanan darah. Efek Vagal lainnya adalah, prespiration, peningkatan aktivitas peristaltik, nausea, dan salivasi.
Sinkop Vasodepressor dapat terjadi pada
1. Seseorang dengan kondisi normal yang dipengaruhi oleh emosi yang tinggi
2. Pada seseornag yang merasakan nyeri hebat setelah luka, khususnya pada daerah abdomen dan genitalia
3. Selama latihan fisik yang keras pada orang-orang yang sensitif

Sinkop Neurokardigenik6
Oberg dan Thoren telah mengobservasi bahwa ventrikel kiri dapat saja menjadi sumber persarafan yang memediasi terjadinya sinkop. Terjadi paradoxical bradikardia yang ditandai dengan meningkatnya aktivitas serat autonom yang berasal dari ventrikel jantung. Sinkop sering terjadi pada situasi peningkatan aktivitas simpatik perifer dan venous pooling. Pada situasi ini, peningkatan kontraksi miokardial pada ventrikel kiri yang relatif kosong mengaktifkan mekanoreseptor dari miokardium dan saraf afferen vagus yang menghambat aktivitas simpatik dan meningkatkan aktivitas parasimpatik. Hasil dari vasodilatasi dan bradikardia menyebabkan sinkop. Walaupun reflex yang melibatkan mekanoreseptor miokardium umum diterima sebagai sebab dari sinkop neurokardiogenik, namun reflex lain juga diperkirakan terlibat. Sinkop neurocardiogenik sering terjadi sebagai stimulus dari rasa takut, emosi, atau nyeri yang tidak berasosiasi dengan venous pooling pada ekstremitas bawah.
Mekanisme yang mungkin melibatkan SSP dalam sinkop neurogenik masih belum dapat dijelaskan dnegan pasti, namun peningkatan tiba-tiba level serotonin dapat berefek pada menurunnya aktivitas simpatik. Endogen opioat dan adenosin juga dianggap terkait dalam patogenesis.

Neuralgia Glossofaringeal4,6
Sinkop karena neuralgia glossofaringeal ditandai dengan nyeri pada orofaring, fossa tonsilar atau ligah. Biasanya terjadi pada pasien dekade ke-6. Pada sebagian kecil kasus nyeri hebat yang dirasakan berujung pada sinkop. Sebagai sekuens berawal dari nyeri, bradikardia, dan kemudian sinkop. Kehilangan kesadaran yang terjadi lebih sering diasosiasikan dengan kondisi asistol daripada vasodilatasi. Mekanismenya melibatkan aktivasi impuls afferen pada saraf glossofaringeal yang diterminasi pada NTS di medulla secara kolateral dan mengaktifkan nukleus dorsal motor dari nervus vagus. Sebagai tambahan dari bradikardia, terdapat pula hipotensi yang terjadi karena efek inhibisi aktivutas simpatik perifer, hal ini yang terkadang menjadi penyebab timbulnya asystole. Pengobatan media yang dapat diberikan adalah anticonvulsant dan baclofen.

Penyakit Cerebrovaskular
Kelainan pada cerebrovaskular jarang menjadi penyebab tunggal dalam terjadinya sinkop. Namun, kelainan pada cerebrovascular ini menyebabkan penurunan ambang untuk terjadinya syncope. Arteri Vertebrobasilar, yang mensuplai struktur batang otak dan bertanggungjawab untuk mempertahankan kesadaran, umumnya terlibat dalam penyebab terjadinya sinkop karena kelainan cerebrovaskular. Kebanyakan pasien yang mengalami kepala ringan, atau sinkop karena kelainan serebrovascular juga memilki gejala lain dari iskemia neurologis, seperti tangan dan kaki menjadi lemah, diplopia, ataxia, disarthria, atau gangguan sensorik. Arteri bassiler jarang menyebabkan sinkop pada ornag dewasa.4,6

Penyebab neurologik dari sinkop termasuk migrain, kejang, malformasi Arnold-Chiari dan TIA (transient Ischemic Attack) yang ternyata cukup mengejutkan karena merupakan <10% sebagai penyebab sinkop secara keseluruhan. Kebanyakan individu yang mengalami sinkop akibat kelainan neurologik seringkali mengalami kejang daripada hanya episode sinkop saja. Kelainan neurologi yang terjadi sering kali mirip dengan sinkop yakitu terdapatnya gangguan atau hilangnya kesadaran seseorang. Keadaan ini termasuk iskemi serebral sementara, migrain, epilepsi lobul temporal, kejang atonik dan serangan kejang umum.3 Sinkop Perdarahan Cerebral Terjadinya perdarahan subarachnoid dapat menjadi sinyal terjadinya sinkop, yang sering diikuti dengan transient apnea. Oleh karena terjadi perdarahan arteri, terdapat peristiwa penghentian dari sirkulasi cerebral karena tekanan intrakranial dan tekanan darah saling mendekati satu sama lain. Permasalahan yang sering terkait adalah seorang pasien yang terjatuh tiba-tiba tanpa sebab yang jelas, tersadar dengan sakit kepala, sering ditemukan memiliki hematom bifrontal dan perdarahan subarachnoid pada pemeriksaan CT.4 Sinkop Kardiak3,4,6 Kehilangan kesadaran karena jantung atau pembuluh kondisi darah yang mengganggu aliran darah ke otak. Kondisi ini mungkin mencakup irama jantung abnormal (aritmia), obstruksi aliran darah di jantung atau pembuluh darah, penyakit katup, stenosis aorta, bekuan darah, atau gagal jantung. Penyebab Sinkop Metabolik Penyebab metabolik pada sinkop sangat jarang, hanya berkisar 5% dari sleuruh episode sinkop. Gangguan metabolik yang seringkali menjadi penyebab sinkop tersebut adalah hipoglikemi, hipoksia dan hiperventilasi. Sinkop akibat hipoglikemi adalah hilangnya kesadaran yang berhubungan dengan kadar gula darah dibawah 40mg/dL dan disertai gelaja tremor, bingung, hipersalivasi, keadaan hiperadrenergik dan rasa lapar. Hipoadrenalism yang dapat menyebabkan terjadinya hipotensi postural akibat sekresi kortisol yang tidak adekuat, merupakan penyebab penting episode sinkop yang dapat diobati.3 Sinkop Situasional4,6 Berbagai aktivitas termasuk batuk, mikturisi, dan defekasi dapat menyebabkan sinkop. Hal ini setidaknya disebabkan oleh kontol abnormal dari saraf autonom dan mungkin melibatkan respon cardioinhibitory dan respon vasodepressor. Batuk, mikturisi, defekasi yang berassosiasi dengan manuver dapat menyebabkan hipotensi dan sinkop dengan cara menurunkan venous return. Peningkatan tekanan intrakranial sekunder hingga peningkatan tekanan intratorakal dapat menyebabkan penurunan aliran darah cerebral. Sinkop karena batuk biasanya terjadi pada pria yang memiliki kronik bronchitis atau penyakit paru obstruktif. Sinkop karena mikturisi lebih banyak terjadi pada usia pertengahan dan orang yang lebih tua usianya, khususnya untuk mereka yang memiliki hipertrofi prostat dan obstruksi saluran kemih, biasnaya terjadi pada malam hari setelah melakukan pengosongan. Sinkop defekasi dapat terjadi secara sekunder akibat valsava manuver pada orang tua dengan konstipasi.