YOUTH FOR THE FUTURE

SELAMAT DATANG DI BLOG PMR UNIT SMPN 18 KOTA BOGOR

Sabtu, 18 Desember 2010

jangan remehkan pertolongan pertama

JANGAN remehkan pertolongan pertama. Artinya, pertolongan pertama sangat dibutuhkan untuk kondisi darurat. Selain itu, juga bisa menolong jiwa orang tersebut.

Karena itu, tidak ada salahnya mempelajari pertolongan pertama tersebut. Keadaan yang darurat bukan lagi menjadi satu hal yang aneh. Tetapi sayangnya, keadaan tersebut justru terkadang menjadi tontonan bagi mereka yang tidak tahu harus berbuat apa. Karena itu, penting sekali bagi setiap orang untuk mempelajari pemberian pertolongan pertama karena bisa sangat berarti untuk keselamatan nyawa seseorang.

Saat seseorang mengalami kecelakaan atau sakit yang tiba-tiba, maka yang dibutuhkan ialah pertolongan pertama kepada orang yang mendapat kecelakaan sebelum mendapatkan pertolongan dari tenaga medis. Pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) juga merupakan usaha untuk menyelamatkan nyawa mereka yang harus mendapat pertolongan.

“Pertolongan pertama merupakan suatu tindakan yang dilakukan segera setelah mengetahui adanya kondisi yang tidak seharusnya terjadi pada seseorang baik trauma maupun nontrauma, terlebih lagi jika kondisi tersebut mengancam nyawa,” ucap Kepala Gawat Darurat di Rumah Sakit Fatmawati Jakarta, dr Ugi Sugiri SpEM.

Ugi menjelaskan, pertolongan pertama harus diberikan secara cepat walaupun perawatan selanjutnya tertunda. Selain itu, juga harus tepat sehingga akan meringankan rasa sakit korban. Pertolongan pertama ini biasanya diberikan orang-orang di sekitar korban, yakni menghubungi petugas kesehatan terdekat.

Pertolongan ini pun harus diberikan secara cepat dan tepat, sebab penanganan yang salah dapat berakibat buruk, cacat tubuh, bahkan bisa menyebabkan kematian.

”Pertolongan pertama merupakan suatu hal yang jelas-jelas sangat penting, tentunya harus dilakukan oleh orang yang berkompeten,” tutur dokter umum yang juga berpraktik dan tergabung dalam tim dokter dari Medic One, Jakarta ini.


Untuk orang awam, kondisi yang tidak seharusnya terjadi pada seseorang kadang tidak disadari bahwa hal tersebut berpotensi pada ancaman nyawa seseorang, misal anak panas bisa menyebabkan kejang, atau mimisan (perdarahan hidung) yang bisa menyebabkan kehilangan banyak darah.

”Itulah sebabnya mengapa pertolongan pertama harus diajarkan pada siapa saja, bahkan First aid training ini sebaiknya sudah diajarkan atau diperkenalkan pada murid sekolah dasar mulai dari kelas satu,” saran Ugi.

Tujuan dari pertolongan pertama ini adalah untuk mencegah keadaan bertambah buruk sebelum si korban mendapatkan perawatan dari tenaga medis.
Oleh karena itu, tindakan pertolongan pertama ini bukanlah tindakan pengobatan sesungguhnya dari suatu diagnosis penyakit agar si penderita sembuh dari penyakit yang dialami.

Ugi menegaskan, yang jelas, pertolongan pertama ini diberikan pada seseorang dengan kondisi true life saving, seperti tidak sadar, henti napas, henti jantung, dan kejang. Atau penderita yang juga dengan kondisi yang berpotensi ancaman nyawa, luka dengan perdarahan, panas tinggi, patah tulang, gigitan serangga, alergi dan lainnya.

”Dalam memberikan pertolongan pertama, yang perlu diperhatikan adalah lakukan selama mampu, tetap tenang, gunakan alat aman di sekitar kita, melindungi diri dalam situasi ”danger area”, dan komunikasi dengan fasilitas kesehatan lebih lanjut,” jelas dokter lulusan Universitas Trisakti Fakultas Kedokteran ini.

Saat ini banyak institusi yang menyelenggarakan “first aid training”, pengetahuan ini yang harus mereka miliki sebagai dasar, karena di dalamnya memberikan pengetahuan tentang kondisi-kondisi kegawatan yang sering ditemukan sehari-hari serta penanganannya.

”Melatih orang agar terus waspada terhadap kondisi darurat menjadi hal yang utama, setidaknya mereka tahu bagaimana dasar yang harus dilakukan saat melakukan pertolongan pertama, dan itu bisa dilakukan dengan mengikuti pelatihan pertolongan pertama,” jelas Associate Director Medic One, Eldrin Kumendong.

Hal itu juga yang dilakukan Medic One, sebuah perusahaan Emergency Medical Services (EMS) atau pelayanan bantuan medis darurat 24/7/365, yang didirikan oleh sejumlah dokter, paramedis, dan para profesional yang bergerak di bidang kesehatan, yang sangat memperhatikan terhadap kondisi kritis bagi masyarakat yang memerlukan bantuan dan tindakan yang cepat dan tanggap dalam menghadapi kondisi darurat.

”Kata kunci untuk melakukan pertolongan pertama dalam keadaan darurat adalah tidak panik dan dengan memperhatikan DR. ABC, yaitu Danger, Respons, Air way, Breathing, dan Circulations,” tuturnya.

D untuk danger, sebagai penolong, dia harus mengerti betul akan keadaan,termasuk keadaan bahaya, jangan sampai si penolong menjadi korban berikutnya. Perhatikan apakah keadaan sudah aman untuk korban dan kemudian apakah ada bahaya untuk kita. ”Segala sesuatu harus diperhitungkan, termasuk kondisi lingkungan,” tandasnya.

R untuk response, sama dengan kesadaran, kita harus mengecek kesadaran si pasien, bisa dimulai dengan memanggil. Jika dipanggil tidak berkali-kali sampai ia merespons, lakukan dengan sentuhan, sentuh penderita dengan punggung tangan kita.

”Jika ia merespons saat dipanggil, berarti kesadarannya masih tinggi, tetapi jika sadar dengan sentuhan berarti kesadarannya sudah melemah,” paparnya.

Jika penderita masih belum merespons juga, sadarkan dengan menekan (seperti mencubit) bagian pangkal kuku, supaya tidak berbekas. Jika ada respons, kita bisa lega. Jika sudah sadar, lakukan pengecekan, misal tidak ada kemungkinan patah tulang, atau yang lain. Cek respons juga bisa dilakukan dengan memberi bau sesuatu dekat hidung, seperti bau minyak kayu putih.

A untuk Air way atau jalan napas. Berikan jalan napas agar penderita menjadi terjaga. Jangan biarkan penderita dalam keadaan tidak mendapatkan udara. Tengokkan kepala ke sebelah kanan atau kiri, kemudian di dongakkan. Setelah jalan napas terbuka dengan keadaan mulut terbuka, lihat rahang dalamnya. Bantu untuk bersihkan jika ada sesuatu yang mengganggu jalan napasnya.

B untuk breathing atau bernapas. Jika air way sudah bersih, cek apakah jalan napasnya masih terbuka atau tidak, dengan cara look, lesson and feel. Lihat apakah jantungnya masih berdetak, dengarkan jantungnya dan rasakan. Tempelkan sedekat mungkin kepala kita dengan dada korban. Look atau lihat apakah dada naik turun, jika ya, berarti penderita menandakan napas, lesson atau dengarkan suara napasnya. Dan feel, rasakan jika ada napas.

”Jika seseorang bernapas dekat dengan kita, kita akan merasakan bulu roma menjadi merinding,” ujarnya.

Jika teknik lihat, dengarkan dan rasakan tidak ampuh, maka kita bisa melakukan teknik CPR (cardiopulmonary resuscitation) atau resutisasi pijat jantung.

”CPR harus dilakukan oleh orang yang juga mengerti tekniknya, jika tidak bisa melakukan teknik ini, maka sebaiknya tidak perlu melakukan karena dikhawatirkan akan mengancam nyawanya,”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar